Oleh: Richard E. G. A. Angkuw

Keadilan selalu digambarkan sebagai sosok yang menutup mata, tidak memandang status sosial, kekuasaan, maupun kekayaan. Namun dalam realitas kehidupan, masih muncul pertanyaan yang terus menggema di ruang publik: benarkah keadilan benar-benar berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah bagi setiap warga negara?

Di sebuah desa yang sederhana, hiduplah seorang ayah dengan penghasilan yang hanya cukup untuk menyambung hidup. Ia bukan pelaku kejahatan terorganisir, bukan pengedar narkotika, dan bukan pula bagian dari jaringan kriminal. Ia hanyalah seorang kepala keluarga yang dihadapkan pada pilihan paling sulit ketika biaya pendidikan anaknya tak lagi mampu ia penuhi.

Dalam keputusasaan, ia mengambil keputusan yang keliru. Seekor ayam kampung menjadi sasaran pencuriannya. Bukan karena keserakahan, melainkan karena keinginannya agar sang anak tetap dapat bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya.

Namun nasib berkata lain. Aksinya diketahui warga. Alih-alih melalui proses hukum yang semestinya, ia justru menjadi korban amuk massa. Tubuhnya dipukuli hingga tak berdaya, sementara harapan yang selama ini ia gantungkan kepada masa depan anaknya ikut runtuh bersama napas terakhirnya.

Di ujung hidupnya, yang tersisa bukan pembelaan terhadap dirinya sendiri, melainkan harapan sederhana agar anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Kini, mari mengalihkan pandangan ke ruang-ruang megah pusat kekuasaan.

Di sana, seorang tersangka korupsi dengan nilai kerugian negara mencapai triliunan rupiah berjalan mengenakan rompi tahanan. Kamera wartawan mengarah kepadanya. Ia melambaikan tangan, bahkan tersenyum di hadapan publik.

Dana yang diduga disalahgunakan bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di dalamnya terdapat anggaran pembangunan sekolah, fasilitas kesehatan, infrastruktur, hingga berbagai program yang semestinya dinikmati masyarakat.