JAKARTA - Pemerintah Indonesia kembali menekankan bahwa rencana pengiriman personel TNI ke Gaza bukan merupakan bagian dari operasi militer ofensif. Misi ini dirancang khusus sebagai langkah kemanusiaan untuk melindungi warga sipil Palestina.
Kementerian Luar Negeri memberikan pernyataan resmi bahwa personel Indonesia tidak akan ditempatkan dalam situasi konfrontasi bersenjata. Mandat tersebut bersifat terbatas dan spesifik di bawah kendali nasional sesuai prinsip politik bebas-aktif.
Langkah ini diambil untuk menepis kekhawatiran publik mengenai keterlibatan Indonesia dalam konflik bersenjata. Fokus utama TNI adalah memberikan bantuan medis, pemulihan infrastruktur dasar, serta pelatihan teknis untuk stabilisasi wilayah.
Indonesia sebelumnya telah mengirimkan bantuan langsung menggunakan pesawat C-130J Super Hercules milik TNI Angkatan Udara. Paket bantuan tersebut berisi pangan, obat-obatan, serta kebutuhan dasar untuk anak-anak dan masyarakat sipil di Gaza.
Tenaga medis TNI juga telah aktif beroperasi di fasilitas kesehatan sekitar Gaza, termasuk rumah sakit terapung di El Arish. Tim medis Indonesia telah memberikan layanan operasi hingga rehabilitasi bagi ribuan pasien Palestina.
Guna memperkuat dukungan, TNI Angkatan Laut menyiagakan kapal rumah sakit seperti KRI dr. Soeharso-990, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991, dan KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 yang memiliki fasilitas medis lengkap.
Kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan ruang rawat inap dan helikopter evakuasi untuk menjamin layanan kesehatan komprehensif. Pemerintah memastikan seluruh prosedur misi internasional ini tetap berlandaskan pada hukum internasional dan diplomasi damai.
Penegasan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kehadiran TNI di wilayah krisis murni merupakan komitmen kemanusiaan. Aksi nyata tersebut diwujudkan melalui pengiriman logistik dan perlindungan warga sipil terdampak konflik.*