DINAMIKA NEWS — Upaya menjaga marwah pemerintahan sekaligus mencari solusi atas persoalan yang menimpa sejumlah aparatur, Kepala Bagian Hukum dan HAM Kota Bogor, Alma Wiranta, menerima 14 pegawai Satpol PP yang mengaku menjadi korban dugaan praktik tidak wajar di lingkungan kerja mereka. Pertemuan tersebut berlangsung pada Selasa (21/4/2026) di ruang rapat Ragamulia.
Dalam pertemuan itu, Alma menerima berkas laporan dari para korban dan langsung menggali kronologi kejadian. Awalnya, kasus ini disebut terkait utang piutang dengan nilai hampir Rp2 miliar. Namun setelah didalami, ditemukan fakta yang berbeda.
“Setelah mendapatkan keterangan langsung dari para korban, ternyata persoalan tidak sesederhana itu. Ada pemotongan uang tunjangan hingga lebih dari Rp8 juta per orang, serta pinjaman bernilai ratusan juta rupiah,” ungkap Alma.
Ia menegaskan, pihaknya akan segera menelusuri persoalan tersebut dengan melibatkan pihak koperasi dan perbankan guna mendapatkan kejelasan. Langkah ini diambil untuk mencari jalan keluar, terutama terkait pinjaman dan bunga bank yang kini membebani para korban.
“Kami memberikan pelayanan hukum dan selanjutnya pendampingan hukum bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) secara probonountuk pendampingan para korban, termasuk membantu mencarikan solusi pembayaran bunga bank,” jelasnya.
Salah satu korban, Anwar Sanusi, mengungkapkan dirinya awalnya mengajukan pinjaman melalui pihak tertentu bernama Dumi dengan pencairan melalui Bank BNI sebesar Rp300 juta. Namun, dana tersebut disebut harus dibagi dua dengan pihak kantor.
Anwar mengaku terkejut saat kemudian muncul tagihan dari koperasi dan Bank Kota Bogor sebesar Rp65 juta, padahal ia merasa hanya berurusan dengan pinjaman melalui Dumi dan BNI.
“Masalah ini sudah saya laporkan ke Inspektorat, tapi belum ada penyelesaian. Saya bahkan diarahkan untuk melapor ke Sekda hingga Wali Kota. Harapan saya, tagihan bank ini bisa dilunasi,” ujar Anwar.
Korban lainnya, Asep Saepulah, mengaku diminta oleh oknum di kantor untuk mengajukan pinjaman ke Bank Kota Bogor dan bank bjb pada 2022 dengan jaminan SK senilai Rp220 juta. Pinjaman tersebut, menurutnya, digunakan untuk menyelesaikan persoalan kantor dengan janji akan dilunasi dalam waktu satu tahun.