Oleh: Dudung A. Abdullah
Fenomena sosial masyarakat Jatiwangi di daerah Majalengka serta event Binaraga Jebor menginspirasi sineas kreatif dan mengangkatnya dalam sinetron Ganteng-Ganteng Genteng. Sinetron ini menggambarkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang terjadi di tengah perubahan pembangunan pada masyarakat pengrajin genteng. Meskipun tidak disebutkan secara spesifik nama Jatiwangi dalam alur ceritanya, namun aktivitas di Desa Ciwani yang dijadikan latar cerita diakui dalam skrip terinspirasi dari Binaraga Jebor di Jatiwangi.
Selain sebagai hiburan, sinetron Ganteng-Ganteng Genteng juga dapat dipahami sebagai bentuk kritik sosial terhadap pembangunan yang sering kali mengabaikan keberadaan industri tradisional. Dalam cerita yang ditampilkan, masyarakat pengrajin digambarkan menghadapi tekanan ekonomi, perubahan paradigma masyarakat, dan kurangnya minat generasi muda terhadap industri genteng. Sebagai orang yang menghabiskan masa remaja dan tumbuh di lingkungan buruh pabrik genteng Jatiwangi pada era tahun 90-an awal, memori dan emosi saya terbang ke masa lalu saat melihat secara seksama sudut-sudut cerita dalam Ganteng-Ganteng Genteng.
Melalui pendekatan hiburan, sinetron tersebut memperkenalkan identitas Jatiwangi kepada masyarakat luas sekaligus menunjukkan bahwa industri genteng merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat lokal. Kehadiran sinetron ini secara tidak langsung menjadi media representasi yang memperlihatkan perjuangan masyarakat mempertahankan budaya genteng tanah di tengah arus modernisasi. Karena bagi warga Jatiwangi, genteng bukan sekadar barang industri, ia merupakan kebudayaan lokal yang memiliki sejarah panjang serta harus direvitalisasi.
JAF sebagai Bentuk Protes Sosial
Selain melalui sinetron, keresahan masyarakat pengrajin genteng juga diwujudkan melalui gerakan seni budaya yang dilakukan oleh komunitas Jatiwangi Art Factory (JAF). Komunitas ini dikenal sebagai ruang seni masyarakat yang menggunakan tanah liat dan genteng sebagai media ekspresi budaya sekaligus kritik sosial terhadap pembangunan. Bahkan Binaraga Jebor yang menjadi tema kontes otot paling viral dalam Ganteng-Ganteng Genteng adalah event yang digelar JAF.
Penulis memandang, JAF berupaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempertahankan identitas lokal. Berbagai pertunjukan seni, festival, dan kegiatan budaya dilakukan untuk menyuarakan keresahan masyarakat terhadap hilangnya ruang hidup pengrajin genteng akibat industrialisasi dan invasi kawasan pabrik ke wilayah Majalengka.
Dalam perspektif hukum dan sosial, gerakan yang dilakukan JAF dapat dipandang sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam mempertahankan hak budaya dan hak atas lingkungan hidup yang baik. Protes semacam ini muncul karena pembangunan sering kali dilakukan tanpa memperhatikan dampak sosial terhadap masyarakat lokal. JAF menjadikan seni tidak semata sebagai alat hiburan. Namun lebih dari itu, ia menjadi alat perjuangan sosial yang efektif guna menyampaikan pesan bahwa pembangunan seharusnya tidak menghilangkan identitas budaya dan mata pencaharian masyarakat tradisional. Salut buat JAF!
Sejak invasi industri ke wilayah Majalengka dengan hadirnya sejumlah pabrik modern, eksistensi industri genteng Jatiwangi mengalami kondisi yang terus mengkhawatirkan. Di samping ada pergeseran pola konsumen yang lebih memilih genteng seng dan beton karena dianggap lebih ekonomis, juga adanya krisis tenaga kerja. Saat ini, sebagian besar pekerja genteng merupakan orang-orang tua yang tetap berkarya. Mereka konsisten bekerja di jebor, bisa jadi karena tidak ada pilihan lain. Tidak ada ruang kerja yang bisa menampung mereka dengan usia yang tidak lagi muda, ditambah tingkat pendidikan formal mereka yang terbatas, sehingga sulit mengakses peluang kerja.