Jakarta - Pengamat media sosial Dede Budhyarto menyampaikan kritik terbuka terkait narasi paper ilmiah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diunggah di platform Social Science Research Network (SSRN).

Ia menegaskan bahwa unggahan paper ilmiah di platform repositori pra-cetak tersebut tidak memiliki kaitan dengan mekanisme resmi pengusulan penghargaan Nobel Perdamaian maupun institusi kepresidenan.

"Sebagai dosen hukum, Anda @dosenhukumnotes semestinya paham betul bahwa mekanisme nominasi Nobel Perdamaian sama sekali tidak semudah mengunggah paper di SSRN lalu memberi judul bombastis," tulis Dede Budhyarto dalam unggahan X nya.

Dede menambahkan bahwa dokumen pra-cetak tersebut merupakan inisiatif sepihak yang tidak mewakili sikap resmi dari pemerintah Indonesia.

"Paper tersebut bukan produk resmi pemerintahan, bukan perintah Presiden, dan bukan “ajuan Nobel” yg sah. Nominasi Nobel hny bisa dilakukan oleh pihak yg berwenang menurut ketentuan Norwegian Nobel Committee, bersifat rahasia, dan bukan melalui platform preprint bebas," tegasnya.

Ia juga menyayangkan adanya narasi di media sosial yang dinilainya menggiring persepsi publik tanpa melihat fakta mendasar dari dokumen tersebut.

"Alih-alih menjelaskan fakta dasar ini kepada publik, Anda justru ikut menyebar narasi seolah-olah paper itu merepresentasikan hasrat Presiden atau pemerintahan. Padahal yg terlihat jelas justru inisiatif sepihak yg ceroboh, bahkan meninggalkan jejak prompt AI."

Dede menekankan pentingnya menyampaikan fakta yang akurat kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran terkait dokumen ilmiah liar.

"Kritik terhadap kualitas paper silakan saja. Tapi menyamakan paper liar dgn sikap resmi negara adalah kekeliruan yg tidak layak datang dari seorang akademisi hukum. Publik berhak mendapat penjelasan yg akurat, bukan amplifikasi isu yg MENYESATKAN," pungkasnya.