BOGOR, wwb.co.id - Perjuangan bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran Kota Bogor, yang menjadi saksi lahirnya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1909. Organisasi ini didirikan oleh Raden Tirto Adhi Soerjo, seorang jurnalis dan tokoh pergerakan yang dikenal sebagai pelopor kesadaran nasional di era penjajahan Belanda.
SDI menjadi cikal bakal dari Sarekat Islam (SI), yang kemudian diperjuangkan oleh Haji Samanhoedi dan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebelum mendirikan SDI, Tirto Adhi Soerjo aktif menyuarakan kepentingan rakyat melalui media seperti Sunda Berita dan Medan Prijaji. Dari sinilah muncul ide untuk membentuk wadah yang dapat menyatukan rakyat Hindia Belanda melalui perdagangan dan nilai-nilai Islam.
Menurut Majalah Arsip karya Dharwis W.U. Yacob, pada 27 Maret 1909, di kediaman Tirto Adhi Soerjo di Bogor, diadakan pertemuan penting yang melahirkan Sarekat Dagang Islamiah. Tirto diangkat sebagai penanggung jawab utama, dengan tujuan menjadikan perdagangan dan Islam sebagai alat pemersatu rakyat Hindia Belanda.
SDI resmi berdiri pada 5 April 1909, dengan kantor pusat di gedung sewaan di Tanjakan Empang, Bogor. Meskipun hanya mendapatkan izin administratif dari Kepala Negeri Bogor, kegiatan organisasi tetap berjalan. Tirto bahkan berhasil mengangkat C.J. Feith, Asisten Residen Bogor, sebagai pelindung SDI.
Tirto aktif melakukan propaganda SDI ke berbagai daerah. Dalam salah satu perjalanannya, ia bertemu Haji Samanhoedi, seorang pedagang batik dari Solo, yang kemudian dipercaya memimpin SDI Afdeeling Solo sebagai cabang dari SDI Bogor. Sejak saat itu, Haji Samanhoedi menjadi orang kepercayaan Tirto.
Namun, pada tahun 1912, Tirto Adhi Soerjo terpaksa menghadapi masalah hukum yang berujung pada hukuman pembuangan ke Ambon selama enam bulan. Kepemimpinan SDI pun dialihkan kepada Haji Samanhoedi.
Di bawah kepemimpinan Samanhoedi, SDI berganti nama menjadi Sarekat Islam. Struktur organisasi diperjelas dengan adanya presiden, sekretaris, bendahara, dan komisaris, sementara Tirto tetap dihormati sebagai penasihat.
Sarekat Islam menjadi jembatan aspirasi rakyat kepada pemerintah Hindia Belanda, dengan kegiatan yang meliputi sosial, ekonomi, dan keagamaan. Pengaruhnya menyebar pesat, terutama di kalangan rakyat kecil, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Antara tahun 1912 hingga 1919, jumlah anggota Sarekat Islam melonjak hingga mencapai dua juta orang, meskipun yang aktif hanya sekitar separuhnya. Organisasi ini menjadi simbol solidaritas rakyat yang disatukan oleh agama, profesi, dan semangat kebangsaan.
