BOGOR.WWB.CO.ID -Anak-anak kecil asuhan Sanggar Megagama Karya yang berlokasi di Mall BTW Jl.Veteran No 27 Panaragan Kecamatan Bogor Tengah,Kota Bogor. Terlihat pandai dalam memperagakan Tari Jaipong Jawa Barat.
“Bahwa sanggar ini baru dirilis enam bulan yang lalu pada bulan April 2020, kenapa sanggar ini berdiri? asal mulanya kasian melihat anak-anak selama pandemi tidak bisa berkegiatan, yang kebetulan saya sebagai pendidik di sekolah, jadi ketemu anak di rumah mereka tidak sekolah, tapi di luar berkeliaran, akhirnya belajar Tari Jaipong di rumah, dan saya bina. Karena anak tersebut kurang mampu, jadi saya tidak memungut bayaran untuk di latih di rumah,” ucap Yulia Heliyanti pendiri Sanggar Megagama Karya, Minggu (9/10/2022).
Kata Yulia, awal mulanya sanggar bernama Etika Sora, dan akhirnya berubah nama Megagama Karya, yang berarti ibu yang mempunyai karya yang besar menggema di seluruh Nusantara. Tapi tidak lupa di dalam jiwa ibu yaitu sosial.
Yang memotivasi saya membuat sanggar ini yaitu, rasa kekhawatiran, kegelisahan dengan anak-anak saat itu tidak punya lahan untuk berkarya. Saya berfikir daripada main games menghabiskan Kouta, belajar tidak, dan tidak ngapapain itu awal mulanya dari situ,” sambungnya.
Di Sanggar Megagama Karya kurang lebih ada 32 orang yang belajar dari berbagai jenis bidang, mulai dari, tari tradisional, modern, gitar, drum, bass, keyboard, biola, alih vokal dan melukis dan mewarnai untuk usia di bawah 7 tahun.
Sesuai dengan visi kami yaitu sosial, jadi untuk anak yang belajar di Sanggar Megagama Karya hanya di kenakan biaya perbulannya hanya Rp 125 ribu.
“Mengingat murid yang belajar di sanggar menengah kebawah. Jadi biaya tersebut kami subsidi silang. Yang jelas pelatih kami dengan kualitas yang baik, dengan 5 orang tenaga pengajar yang mumpuni di bidangnya,” tuturnya.
Adapun usia rata-rata belajar di sanggar Megagama Karya mulai dari, 3 tahun, bahkan ada juga yang usia 58 tahun. Dalam satu bulan empat kali pertemuan, dengan durasi waktu belajar satu jam setengah.
“Saya berharap, sanggar Megagama Karya tetap berdiri tegak sesuai visi misi tidak berubah tentu ada misi sosial, budaya. Bukan untuk existensi diri, tapi mengcover masyarakat untuk belajar tanpa harus merasa malu, takut, dan minder dengan kekurangan biaya,” tutupnya.