JAKARTA, wwb.co.id – Ketua Komnas Perempuan, Dr. Maria Ulfah Anshor, M.Si., menilai film Suamiku, Lukaku menggambarkan secara nyata kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang masih banyak terjadi di Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi edukasi usai preview film Suamiku, Lukaku di Aula Dr. Ir. Soekarno, Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Kamis (8/1/2026).

“Film ini membuka realitas yang selama ini dianggap aib dan ditutupi. Kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga harus dihentikan,” ujar Maria Ulfah.

Ia mengungkapkan, setiap tahun Komnas Perempuan menerima sekitar 4.600 laporan kekerasan terhadap perempuan, dengan KDRT sebagai bentuk kekerasan terbanyak. Faktor utama penyebabnya adalah kuatnya budaya patriarki.

Rektor UBK, Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, menyebut film dapat menjadi media efektif untuk edukasi dan advokasi. Menurutnya, pesan film perlu dilanjutkan dengan pemahaman hukum dan keberanian korban untuk bersuara.

Sementara itu, Produser Eksekutif dan CEO SinemArt, David S. Suwarto, mengatakan film ini dibuat untuk memecah keheningan terkait isu KDRT.

“Kami ingin membangun kesadaran publik agar para penyintas tidak merasa sendirian dan berani mencari solusi,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, aktris Mieke Amalia dan komedian Chika Waode turut berbagi pengalaman sebagai penyintas KDRT. Keduanya menekankan pentingnya kemandirian perempuan dan keberanian mengambil keputusan.

Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, Lia Nathalia, berharap kegiatan ini mampu mendorong masyarakat berhenti menormalisasi KDRT dan mulai saling mendukung korban.