Jakarta - Nilai tukar Rupiah menghadapi tekanan signifikan dengan dolar Amerika Serikat (AS) mencapai Rp17.882 pada Selasa, 2 Juni 2026. Angka ini memicu diskusi luas di media sosial mengenai kondisi ekonomi nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pemerintah menekankan pelemahan rupiah tidak dapat dinilai dari satu angka kurs semata. Analisis harus mencakup fundamental ekonomi domestik dan dinamika global.
“Tapi untuk saya sih ini bukan tanda pemburukan apa dipicu oleh pemburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain kita masih kuat,” ujar Menteri Keuangan Purbaya beberapa waktu lalu saat media briefing.
Pemerintah menilai pelemahan Rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal. Penguatan dolar AS global, ketidakpastian ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, serta pergeseran modal dari negara berkembang menjadi pemicu utama bagi mata uang emerging markets.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.900 menjadi perhatian serius. Namun, ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” kata Purbaya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan pemerintah menyadari pelemahan kurs, namun menilai akar masalahnya berasal dari sentimen global, bukan dari kerusakan fundamental ekonomi nasional.
Di tengah tekanan Rupiah, berbagai indikator ekonomi nasional menunjukkan kinerja positif. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen. Penerimaan perpajakan dan pendapatan negara juga menunjukkan pertumbuhan positif.
Konsumsi rumah tangga, sebagai motor penggerak perekonomian, tetap kuat dan menopang aktivitas ekonomi domestik. Purbaya kembali menegaskan perbedaan kondisi ini dengan krisis ekonomi masa lalu.