Jakarta - Kunjungan kerja Presiden Prabowo ke luar negeri menuai sorotan. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik intensitasnya, menyarankan optimalisasi diplomasi virtual dan penerapan formula "1+8". Masukan ini memicu perdebatan publik.
Pemerintah membela langkah tersebut sebagai strategi diplomasi ekonomi agresif. Tujuannya adalah memperkuat investasi, hilirisasi industri, ketahanan energi, hingga kerja sama pertahanan di tengah perlambatan ekonomi global.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menekankan keterlibatan langsung Presiden sangat krusial. "Bapak Presiden tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi aktif mendengarkan, merespons cepat, dan memberikan solusi serta perintah langsung atas berbagai masukan dari dunia usaha. Ini yang membuat kepercayaan investor semakin kuat," ujarnya.
Diplomasi Presiden berorientasi pada hasil konkret. Lawatan ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen investasi Rp575 triliun dari sektor strategis seperti hilirisasi, energi, manufaktur, dan AI.
Kunjungan ke Eropa, termasuk Inggris, Swiss, dan Prancis, menambah komitmen investasi Rp90 triliun. Ini mencakup kerja sama di bidang pendidikan, ekonomi hijau, kemaritiman, serta pengembangan SDM.
Pengamat menilai diplomasi kepala negara tak tergantikan oleh pertemuan virtual. Negosiasi tatap muka dinilai lebih efektif membangun kepercayaan politik dan ekonomi, serta memberikan sinyal kepastian investasi.
Kehadiran Presiden di forum internasional menjaga posisi tawar Indonesia di tengah persaingan global. Ini krusial untuk menarik modal, teknologi, dan kerja sama strategis demi pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah mengingatkan hasil diplomasi tidak selalu instan. Realisasi komitmen investasi, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi membutuhkan proses lanjutan selama bertahun-tahun.
Setiap lawatan diarahkan untuk kepentingan strategis nasional, memperkuat fondasi ekonomi Indonesia. Perdebatan mengenai intensitas kunjungan ini merupakan dinamika demokrasi yang akan terus bergulir.