Jakarta - Kritik majalah internasional The Economist terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi pembahasan publik.
Media asal Inggris itu menyoroti sejumlah program prioritas pemerintah dan mengaitkannya dengan risiko fiskal, tekanan terhadap APBN, hingga tantangan ekonomi global.
Namun di tengah perdebatan yang berkembang di media sosial, pemerintah melihat sorotan tersebut dari sudut yang berbeda.
Perhatian media internasional dinilai menunjukkan Indonesia kini berada dalam posisi yang semakin strategis dan sulit diabaikan dalam peta ekonomi global.
Dengan populasi hampir 280 juta jiwa, posisi sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, serta peran yang terus meningkat di sektor industri dan geopolitik, Indonesia disebut menjadi salah satu negara yang paling diperhatikan dunia.
"Negara yang tidak penting biasanya tidak mendapat ruang analisis panjang," ujar Dadung Hari Setyo (19/5), tokoh eksponen Pemuda Indonesia yang mengikuti perkembangan diskursus ekonomi internasional.
Sorotan terhadap Indonesia bukan pertama kali muncul dari media internasional.
Namun intensitas pembahasan dinilai meningkat seiring langkah pemerintah mendorong hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi desa, transisi energi, serta perluasan investasi strategis.
Kebijakan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di kawasan Asia.