JAKARTA - Pemerintah memberikan klarifikasi resmi terkait isu yang beredar di media sosial mengenai rencana penutupan gerai ritel modern Alfamart dan Indomaret di wilayah pedesaan.

Kabar tersebut mencuat setelah pemerintah menggulirkan program 80.000 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang diduga akan menggantikan posisi ritel modern serta memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa kementeriannya tidak pernah mewacanakan penutupan gerai ritel modern yang sudah beroperasi di tengah masyarakat saat ini.

"Kami tidak pernah berbicara soal menutup Alfamart atau Indomaret yang sudah berjalan. Yang kami dorong adalah moratorium izin pembukaan gerai baru di desa, agar koperasi desa punya ruang untuk tumbuh," ujar Ferry Juliantono dalam keterangan terpisah.

Ferry menilai langkah moratorium tersebut bertujuan untuk menciptakan persaingan usaha yang lebih adil dan memberikan kesempatan bagi Kopdes Merah Putih berkembang sebagai gerai komunitas lokal.

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, turut menepis anggapan bahwa kebijakan pemerintah bertujuan untuk mematikan kelangsungan bisnis ritel modern di Indonesia.

"Kita tidak mematikan Indomaret atau Alfamart. Yang kita lakukan adalah pemerataan rantai bisnis supaya tidak terjadi dominasi yang merugikan UMKM desa," kata Muhaimin Iskandar.

Muhaimin menekankan bahwa penguatan koperasi sangat krusial mengingat sektor UMKM selama ini menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.

Program 80.000 Kopdes Merah Putih diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi desa dengan target penyelesaian sekitar 27.000 unit bangunan fisik pada April 2026 mendatang.