Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh level Rp17.300 tengah menjadi perhatian publik. Namun, Pemerintah menegaskan bahwa kondisi ini masih dalam batas wajar dan terkendali.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa perkembangan nilai tukar tersebut masih masuk dalam skenario yang ditetapkan pemerintah. Ia juga memastikan defisit APBN tetap berada di bawah ambang batas 3 persen.

"Jadi, masih masuk (skenario). Kalau perlu, nanti ya kita bikin APBN-P (APBN Perubahan). Tapi, sekarang, belum cukup untuk men-trigger itu. Jadi, masih aman," katanya dalam Media Briefing di BPPK, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Berdasarkan asumsi makro APBN 2026, pemerintah memproyeksikan rupiah pada level Rp16.500 per dolar AS. Meskipun saat ini melemah, target defisit APBN tetap dipatok sebesar 2,68 persen terhadap PDB.

Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat bahwa pelemahan ini tidak mencerminkan pemburukan ekonomi domestik. Menurutnya, nilai tukar rupiah justru cenderung lebih kuat jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara di kawasan lainnya.

"Rupiah itu dipengaruhi kondisi global dan ekspektasi. Noise di dalam negeri itu yang membentuk ekspektasi. Jadi, kita mesti mengendalikan ekspektasi sebetulnya. Namun, itu bukan ranah saya," ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga di tengah gejolak eksternal akibat konflik di Timur Tengah. Langkah reformasi kebijakan ekonomi yang dilakukan sebelumnya menjadi pendukung utama kekuatan ekonomi domestik saat ini.

Secara nominal, nilai tukar rupiah memang menyentuh level terlemah dalam sejarah. Meski demikian, kondisi ini dipastikan sangat berbeda dengan krisis moneter yang terjadi pada periode 1997-1998 silam.

Pada 1998, rupiah mengalami depresiasi ekstrem hingga 600 persen yang memicu kontraksi ekonomi minus 13 persen. Saat ini, aktivitas ekonomi nasional masih berjalan normal dengan inflasi yang tetap terkendali.