DINAMIKA NEWS — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purbalingga menggelar Kajian Rutin Ahad Pon pada Ahad, 11 Januari 2026, bertempat di Kantor PDM Purbalingga, Jl. Alun-alun Selatan No. 2 Purbalingga. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.50 WIB ini diikuti secara luas oleh seluruh unsur persyarikatan, mulai dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Purbalingga, organisasi otonom (Ortom) tingkat daerah, Unit Pembantu Pimpinan (UPP), Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM), hingga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Kajian berlangsung khidmat dan reflektif, menjadi ruang jeda ideologis bagi warga Muhammadiyah untuk kembali menengok rel perjuangan yang selama ini menuntun gerak persyarikatan. Hadir sebagai penceramah utama, Wakil Ketua PDM Purbalingga, KH. Ali Sudarmo, S.Pd., menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya memahami Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah secara mendalam dan utuh.
Dalam pemaparannya, KH. Ali Sudarmo menegaskan bahwa AD/ART bukan sekadar dokumen administratif atau kumpulan pasal organisatoris. Lebih dari itu, AD/ART merupakan peta jalan ideologis yang memuat cita-cita, prinsip, serta etos perjuangan Muhammadiyah sejak awal berdiri. Tanpa pemahaman yang benar terhadap AD/ART, langkah warga persyarikatan berpotensi keluar dari rel, kehilangan orientasi, bahkan menjauh dari ruh tajdid yang menjadi denyut utama gerakan Muhammadiyah.
Ia mengingatkan bahwa kesetiaan ideologis tidak cukup berhenti pada simbol atau retorika semata, melainkan harus terinternalisasi dalam sikap, cara berpikir, pengambilan keputusan, dan amal nyata. Memahami AD/ART berarti meneguhkan komitmen untuk berjalan lurus di atas rel kehidupan Muhammadiyah: berislam secara berkemajuan, berorganisasi secara tertib, serta berjuang dengan visi yang jernih demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Sejalan dengan hal tersebut, Ustadz Mujahidin Aziz, S.Pd.I., selaku Mudir PPMTQ Daarussalaam Slinga, menyoroti pentingnya membangun sistem persyarikatan yang kokoh dan berkelanjutan, terutama dalam aspek kaderisasi kepemimpinan. Menurutnya, keberlangsungan Muhammadiyah tidak boleh bergantung pada figur tertentu, melainkan harus ditopang oleh sistem yang mampu melahirkan kader-kader ideologis, berilmu, dan berakhlak.
Ia menempatkan pendidikan pesantren Muhammadiyah sebagai salah satu pilar strategis dalam proses kaderisasi tersebut. Pesantren, tegasnya, bukan hanya ruang transmisi keilmuan keislaman, tetapi juga medan pembentukan karakter, disiplin ideologis, dan kepemimpinan profetik. Dari rahim pesantren inilah diharapkan lahir calon-calon pimpinan Muhammadiyah yang matang secara spiritual, tajam secara intelektual, serta kokoh dalam komitmen perjuangan.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, forum dilanjutkan dengan musyawarah persiapan dan pematangan program Tarhim Ramadhan 1447 H. Musyawarah ini menjadi ruang kolektif untuk menyelaraskan gagasan, menyatukan langkah, serta memastikan agenda dakwah Ramadhan Muhammadiyah di Purbalingga berjalan terencana, sistematis, dan berdampak luas bagi umat.
Dengan demikian, Kajian Rutin Ahad Pon ini tidak hanya berfungsi sebagai penguatan ideologis, tetapi juga sebagai wahana konsolidasi gerakan menuju kerja-kerja dakwah Muhammadiyah yang terukur, berkelanjutan, dan berkemajuan.
(Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)