Jakarta - Sistem kelistrikan di Sumatera Utara kembali mengalami gangguan serius, mirip dengan kondisi tahun 2017. Dalam sepekan terakhir, sejumlah wilayah, khususnya Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang, dilanda pemadaman listrik bergilir yang masif.

Pemadaman ini terjadi sejak ambruknya sejumlah tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV dan Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 275 kV pada Kamis (4/6/2026). Hingga kini, masyarakat masih terdampak dengan pemadaman minimal tiga jam setiap harinya.

Seorang warga bernama Ade mengungkapkan kekecewaannya atas respons PLN yang dinilai hanya sebatas permintaan maaf. Padahal, listrik merupakan kebutuhan primer yang krusial bagi aktivitas masyarakat.

Menurut Ade, belum ada jaminan kestabilan pasokan listrik meski PLN menyatakan bekerja ekstra. “Sampai hari ini pemadaman listrik terjadi. Tiap hari minimal 3 jam listrik padam,” tuturnya.

Ia menambahkan, perkiraan perbaikan jaringan baru selesai 14 Juni mendatang menambah rasa miris warga. Dampak pemadaman meluas, mengakibatkan kerusakan peralatan elektronik dan kerugian materiil bagi peternak.

“Dampaknya jelas, warga rugi besar. Banyak masyarakat yang mengeluh karena akibat padamannya listrik, peralatan elektronik mereka rusak, bagi peternak ayam ribuan ternaknya mati. Masak cuma minta maaf, harusnya kompensasi yang jelas diberikan PLN,” ujarnya.

Koordinator Relawan Listrik Untuk Negeri (Kornas Re-LUN), Teuku Yudhistira, menilai krisis listrik ini membuktikan kegagalan manajemen PT PLN (Persero) dalam menjaga keandalan pasokan listrik.

Yudhistira menegaskan, sebagai pelanggan yang patuh membayar tagihan, hak mereka adalah mendapatkan listrik yang andal. “Intinya kita mau listrik andal. Kan ada hak dan kewajiban. Kewajiban kita membayar tagihan, hak kita mendapat listrik andal,” tegasnya, Senin (8/6/2026).

Ia juga menyoroti bahwa di era modern ini, perangkat elektronik sangat bergantung pada pasokan listrik. Pemadaman berulang membuat masyarakat merasa kembali ke zaman batu.