BOGOR, wwb.co.id – Kota Bogor kembali kehilangan jejak sejarahnya. Dua situs yang diyakini memiliki nilai historis tinggi, yakni Bukit Badigul dan Situs Sumur Tujuh (Sumur 7), kini tak lagi dapat ditemukan. Yang tersisa hanyalah timbunan tanah dan kesunyian, tanpa penjelasan resmi kepada publik.
Bagi sebagian pihak, lokasi tersebut mungkin hanya dipandang sebagai lahan kosong yang dapat dimanfaatkan. Namun bagi sejarah dan kebudayaan, hilangnya dua situs ini menjadi simbol penghapusan identitas dan terputusnya ingatan kolektif masyarakat Bogor, Rabu (24/12/2025).
Bukit Badigul berada di wilayah selatan Kota Bogor, tepatnya kawasan Rancamaya. Dalam catatan sejarah dan sejumlah literatur, Bukit Badigul memiliki keterkaitan erat dengan Telaga Rena Mahawijaya yang disebutkan dalam Prasasti Batutulis. Namun sejak era 1990-an, kawasan tersebut dikuasai pihak swasta dan secara perlahan jejak Bukit Badigul menghilang.
Belum usai polemik hilangnya Badigul, kini Situs Sumur Tujuh di kawasan Lawang Gintung juga mengalami nasib serupa. Sumur yang diyakini memiliki nilai historis dan kultural itu kini tertimbun urugan tanah, menyisakan cerita tanpa wujud.
Ketua Yayasan Serambi Nusantara sekaligus pemerhati budaya Sunda, Ahmad Fahir, S.Ag., M.Si., menjelaskan bahwa Bukit Badigul memiliki posisi penting dalam sejarah Kerajaan Pajajaran.
“Dalam Prasasti Batutulis dikisahkan jasa-jasa besar Prabu Siliwangi saat bertahta sebagai Raja Pajajaran pada 1482–1521, di antaranya membuat parit pertahanan Pakuan, tanda peringatan berupa gunung-gunungan, undakan hutan Samida, serta Telaga Rena Mahawijaya,” ujar Ahmad Fahir.
Ia menyebutkan, lokasi Telaga Rena Mahawijaya diperkirakan berada di sekitar kawasan Badigul dan konon mengelilingi bukit tersebut.
“Bukit Badigul dalam sejumlah literatur juga disebut sebagai tempat semedi raja-raja Pajajaran pada masanya,” tambahnya.
Sementara itu, Situs Sumur Tujuh diketahui telah mengalami penghancuran sejak 2018. Wujud aslinya kini tertutup urugan tanah, tanpa upaya pelestarian yang memadai.