Bogor, wwb.co.id – Di pojok sebelah timur Kota Bogor, berdiri sepetak Hutan kecil dan ladang sisa di Desa Cibanon, Kecamatan Sukaraja. Bagi sebagian orang, ini hanya hamparan tanah biasa. Namun bagi warga, hutan ini adalah benteng terakhir ekosistem alami di tengah gelombang pembangunan yang kian masif.

Kini, keberadaan hutan itu terancam. Bukit-bukit dan tanah garapan di kawasan tersebut telah mulai dipatok oleh perusahaan yang diduga akan membangun kawasan baru. Ironisnya, ini bisa jadi awal lenyapnya paru-paru alam terakhir yang menyuplai oksigen dan menyerap air untuk wilayah Cibanon, Katulampa, Sukaraja, hingga Kota Bogor.

Dari hasil pengamatan dalam satu dekade terakhir, citra satelit Global Forest Watch dan peta tutupan lahan dari KLHK menunjukkan penyusutan hutan sekunder di sekitar Desa Cibanon. Jika pada 2010 kawasan ini masih tertutup hutan sekitar 100%, kini tinggal kurang dari 30%. Kawasan ini juga vital dalam meredam risiko bencana.


Menurut cerita warga dan perangkat desa, dulunya kawasan ini merupakan hutan rimba, habitat hewan liar seperti babi dan macan. Lambat laun, masyarakat mulai menggarapnya menjadi kebun palawija.

“Dulunya mah leweung geledegan tapak babi tapak meong, digaraplah sama masyarakat. Itu mah kebun bukan hutan. Cuman karena… Yang jelas itu digunakan sama warga untuk pertanian. Singkong, talas, sayur-sayuran, pokoknya untuk pertanian lah palawija,” ungkap Nurdin, Sekretaris Desa Cibanon. (09/07/2025).


Kini, meskipun masih digarap warga, tanah tersebut sebagian telah dikuasai perusahaan melalui proses peralihan hak garap, bukan melalui jual beli.

"Jadi gini yang saya tahu, itu kan tanah garapan… Terus mungkin karena mereka tidak punya modal untuk menggarap, lalu ada yang minat, mereka oper alihkan, jadi dioper alih bukan jual beli,” lanjut Nurdin.

Ia menambahkan bahwa hak garap tersebut memiliki batas waktu sekitar 10–20 tahun, dan akan hilang jika tidak diperpanjang.

Kekhawatiran akan ancaman besar bagi paru-paru alam mungkin datang dari megaproyek properti Sumarecon Bogor. Proyek seluas lebih dari 500 hektare ini terus berkembang mendekati kawasan Desa Cibanon, mendorong perluasan infrastruktur dan tekanan lahan ke arah timur. Pemerintah Desa Cibanon sendiri bersikap terbuka terhadap pembangunan jika dinilai memberi manfaat bagi warga.