KOTA BOGOR, WWB.CO.ID – Ketua DPC Organisasi Masyarakat (Ormas) Barisan Benteng Raya Padjajaran (BBRP) Kota Bogor, Andre Bango buka suara adanya insiden pembacokan yang menimpa seorang pelajar berinisial AS yang hendak menyebrang di Lampu Merah Pomad, Kota Bogor, Jumat (10/03/23).
Andre Bango mengatakan, dengan adanya insiden tersebut harus menjadi evaluasi semua pihak khususnya hubungan emosional antara guru, wali kelas, murid remaja, dan adanya penyuluhan penyuluhan tentang pencegahan terjadinya aksi seperti ini. Pasalnya, menurut dia, aksi tawuran selalu ada di setiap minggunya di Kota Bogor.
Ia manyampaikan, bahwa 9 tahun lalu pihaknya sempat melakukan beberapa aksi demonstrasi agar tidak ada lagi aksi aksi tawuran yang sangat merugikan banyak orang. Tapi tidak ada langkah kongkrit sampai sekarang.
“Kita memperhatikan 9 tahun yang lalu, kita sempat melakukan beberapa demonstrasi agar tidak adalagi terjadi aksi seperti. Tapi coba di evaluasi, karena korban tawuran, setiap minggu, setiap bulan selalu ada. Artinya kita mengajak semua stakeholder untuk membuka diri agar saran dan masukan dan ini tidak bisa hanya dari pihak kepolisian saja,” ujarnya kepada wwb.co.id, Sabtu (11/03/23).
Ia menuturkan, bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) bersama stakeholder harus melakukan langkah kongkrit untuk bersinergi membentuk elemen bersama untuk melakukan solusi agar tidak terjadi lagi hal seperti ini.
“Kita itu bisa membentuk bersama elemen pemerintah, LSM dan Ormas Masyarakat saling bertukar wawasan, bertukar solusi untuk keadaan seperti ini. Yang dilakukan. Jangan melakukan pembiaran,” tuturnya.
Lebih lanjut Andre Bango mengatakan, bahwa pihak Polresta Bogor Kota harus mensinergitaskan pemuda pemuda atau pelajar yang ada di wilayah Kota Bogor agar mereka mendapatkan pembekalan dan pengertian yang baik serta jika perlu diadakan Penyuluhan Penyuluhan secara rutin dan berkala
“Tujuannya satu, agar adik adik kita mendapatkan haknya sebagai pelajar yang baik dan adik adik kita diberikan pengertian, pembekalan agar mereka paham,” katanya.
Menurutnya, aksi tawuran itu bukan tradisi atau budaya Tetapi lebih cenderung kepada efek negative sebuah egosentris dan sebuah pengakuan kolektif pada masa remaja..