Majalengka - Pengembangan fasilitas *Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO)* pesawat C-130 Hercules di Bandara Kertajati menuai spekulasi di ruang publik, sebagian narasi di media sosial mengaitkan proyek ini dengan kemungkinan penggunaan sebagai pangkalan militer Amerika Serikat.
Namun, berbagai pihak menegaskan bahwa fokus pengembangan adalah pada industri aviasi strategis dan pemeliharaan pesawat, bukan operasi militer asing.
Istilah “Kertajati Bukan Pangkalan” digunakan untuk meluruskan persepsi publik, menekankan bahwa proyek ini sepenuhnya berada dalam ranah industri aviasi.
Fasilitas MRO adalah pusat pemeliharaan pesawat, berbeda fundamental dengan pangkalan militer yang identik dengan penempatan pasukan dan persenjataan.
Kementerian Pertahanan telah menegaskan bahwa proyek ini terkait pusat pemeliharaan regional pesawat Hercules, bukan pembangunan pangkalan militer asing.
Pemerintah diminta menjaga transparansi proyek agar tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat, ujar DPR.
Hingga kini, belum ada keputusan resmi pemerintah yang menyatakan Bandara Kertajati akan dijadikan basis militer Amerika Serikat.
Bandara Kertajati lebih diproyeksikan sebagai pusat pengembangan industri aviasi, logistik, dan pemeliharaan pesawat berbadan besar.
Narasi tentang personel militer asing yang akan menetap dalam jumlah besar juga belum memiliki dasar dokumen resmi.