Peristiwa kebakaran melanda kediaman Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Haerul Saleh, di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Jumat pagi. Insiden ini mengakibatkan Haerul Saleh meninggal dunia.
Aparat penegak hukum bersama petugas pemadam kebakaran sedang melakukan penyelidikan intensif di lokasi kejadian. Hingga saat ini, pihak berwenang menyatakan belum menemukan adanya indikasi tindak kriminal dalam peristiwa tersebut.
Dugaan awal penyebab api berasal dari faktor teknis di area ruang kerja lantai atas. Tim investigasi menemukan sisa bahan tiner dari proses renovasi rumah yang bersifat mudah terbakar sebagai pemicu api.
Tim kepolisian, Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), serta Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Langkah ini bertujuan memastikan sumber api secara objektif.
Menteri Pertanian Andi Amran beserta sejumlah lembaga negara menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Haerul Saleh. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga memberikan penghormatan atas pengabdian almarhum selama menjabat di BPK RI.
Masyarakat diimbau untuk tidak terjebak dalam spekulasi liar di media sosial terkait jabatan strategis korban. Fokus utama saat ini adalah menunggu hasil investigasi resmi yang dilakukan secara transparan oleh aparat.
Pengamat komunikasi publik dari Citra Institute, Efriza, menilai perhatian publik pada kasus ini merupakan bentuk sikap kritis terhadap integritas pejabat negara. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tetap menjaga ruang digital.
"Ruang digital juga perlu dijaga agar tidak menjadi sarana penyebaran asumsi yang belum terverifikasi," ucapnya, Minggu (10/5).
Efriza menekankan pentingnya memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk menuntaskan penyelidikan secara profesional. Hal ini dilakukan guna menghindari penyebaran disinformasi atau fitnah yang dapat merugikan keluarga korban.