Jakarta - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai istilah Londo Ireng saat pidato Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center memicu perdebatan publik dan diskursus sejarah.

Pidato yang disampaikan pada Kamis (23/7/2026) tersebut menuai beragam tanggapan di media sosial, mulai dari dikaitkannya narasi dengan silsilah keluarga Presiden hingga pembacaan konteks sejarah kolonial.

Pengamat komunikasi menyoroti pemotongan video di platform digital yang berisiko menggeser fokus utama pembahasan dari isu kedaulatan nasional menjadi perdebatan personal di ruang publik.

Secara historis, istilah Londo Ireng atau Belanda Hitam berakar dari strategi adu domba era kolonial Hindia Belanda ketika kekuatan asing memanfaatkan divisi internal lokal.

Istilah ini juga merujuk pada serdadu asal Afrika Barat yang direkrut pasukan KNIL antara 1831 hingga 1872, serta pergeseran maknanya untuk menyebut pihak pribumi yang mengabdi pada penjajah.

Dosen STAI Kuningan Dr. Dakhori memberikan tanggapan akademis terkait fenomena penggunaan istilah tersebut dalam dinamika sosial dan politik modern saat ini.

"Londo Ireng bukan soal siapa orangnya, tetapi bagaimana watak kekuasaan itu dijalankan. Ketika seseorang berasal dari rakyat, tetapi kemudian menggunakan kekuasaan untuk menekan rakyat, di situlah kritik itu muncul," kata Dr. Dakhori, Minggu (26/7/2026).

Dr. Dakhori menjelaskan bahwa ancaman era modern hadir melalui sistem kekuasaan yang mengabaikan kepentingan masyarakat luas dan menguntungkan kelompok tertentu saja.

"Dulu penjajah datang dengan kekuatan fisik. Sekarang bisa hadir melalui sistem yang membuat sebagian kelompok semakin kuat, sementara masyarakat kecil semakin sulit mendapatkan ruang," kata Dr. Dakhori.