JAKARTA - Pemerintah Indonesia menyepakati komitmen impor 100 ribu ton jagung dari Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas pasar dan memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan maupun minuman domestik.

Kebijakan ini diambil dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) guna memastikan keberlanjutan rantai pasok tanpa menekan harga jagung di tingkat petani lokal saat memasuki masa panen raya.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Fithra Faisal Hastiadi, menyatakan komitmen impor tersebut memiliki segmentasi pasar berbeda dengan hasil produksi petani dalam negeri.

“Komitmen impor jagung dan sejumlah produk lainnya tidak bersinggungan langsung dengan jagung yang diproduksi petani dalam negeri. Jika dikelola dengan baik, potensi gangguan terhadap pasar lokal sangat minimal,” ujar Fithra Faisal Hastiadi, Jumat (27/02/2026).

Ia menjelaskan jagung impor ditujukan khusus bagi spesifikasi industri yang belum tercukupi pasar lokal, sehingga pemerintah tetap melakukan pengawasan ketat melalui monitoring lintas kementerian secara berkala.

“Pengawasan dilakukan secara berkala. Jika ditemukan potensi konflik dengan produksi domestik, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian,” kata Fithra Faisal Hastiadi, Jumat (27/02/2026).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menambahkan kesepakatan perdagangan ini dirancang untuk memperkuat daya saing ekspor nasional di pasar global melalui akses timbal balik yang menguntungkan.

“Kesepakatan ini dirancang untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia dan tidak akan merugikan sektor domestik secara keseluruhan. Ini adalah langkah strategis untuk mengamankan akses pasar dan memastikan manfaat timbal balik bagi kedua negara,” ujar Airlangga Hartarto, Jumat (27/02/2026).

Melalui perjanjian ART ini, sebanyak 1.819 pos tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mendapatkan fasilitas bebas tarif 0 persen, termasuk produk minyak sawit, kopi, kakao, hingga komponen elektronik.