Jakarta - Pengangkatan Ginka Febriyanti Br Ginting sebagai Komisaris PT Pertamina Retail menjadi topik yang ramai diperbincangkan publik dalam beberapa hari terakhir karena menuai beragam komentar di media sosial.

Sejumlah netizen mempertanyakan usia serta latar belakang politik Ginka sebagai mantan Koordinator Nasional BISON, yang merupakan salah satu kelompok relawan pendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024.

Muncul pertanyaan mendasar mengenai kelayakan seorang komisaris, apakah hanya diukur dari usia dan afiliasi politik, atau perlu dilihat secara komprehensif melalui rekam jejak pendidikan, pengalaman organisasi, serta kapasitas kepemimpinannya.

Kritik yang berkembang di ruang digital sebagian besar berpusat pada usia Ginka yang dinilai masih tergolong muda untuk menduduki posisi dewan komisaris di salah satu anak usaha PT Pertamina.

Namun, beberapa kalangan menilai kompetensi tidak dapat disederhanakan pada faktor usia karena Ginka merupakan lulusan Sarjana Akuntansi Universitas Esa Unggul dan meraih gelar Magister Manajemen pada 2023.

Ginka juga tercatat aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan sosial, termasuk memimpin Aliansi Mahasiswa dan Aktivis Nasional Indonesia sebelum dipercaya masuk ke dalam struktur korporasi nasional tersebut.

"Pendidikan tinggi diselesaikan di Universitas Esa Unggul Jakarta Barat dengan meraih gelar Sarjana Akuntansi pada 2019 dan Magister Manajemen pada 2023." tulis Media Karo Gaul.

"Pengalaman memimpin Aliansi Mahasiswa dan Aktivis Nasional Indonesia serta peran sebagai Koordinator Nasional Barisan Intelektual Strategi Objektif Nasional sejak 2023 mengasah kepemimpinan." tulis Media Karo Gaul.

Data rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa diskursus mengenai kompetensi sebaiknya tidak berhenti pada faktor usia saja, melainkan turut mempertimbangkan kapasitas akademik serta pengalaman organisasi yang dimiliki seseorang.