Bogor, wwb.co.id - Peningkatan kapasitas kelompok tani dari dua kabupaten, yaitu Sukabumi dan Bogor, sukses diselenggarakan dengan melibatkan puluhan peserta yang berasal dari enam kelompok tani.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Forum Koordinasi Pengelolaan Sub DAS Cisadane Hulu (FKPCH) Kabupaten Bogor, Forum Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Hidup (FKPPLH) Kabupaten Sukabumi, serta LSM Rekonvasi bhumi untuk mendampingi kelompok pemberdayaan lingkungan hidup pada Sabtu (25/7/2026).
Pelatihan tersebut berfokus pada materi pembuatan kompos komplit untuk tanaman sayuran, buah-buahan, hingga tanaman kayu, sebagai bagian konsep penerapan pemanfaatan jasa lingkungan (Payment for Environmental Services / PES) agar daerah aliran sungai hulu dan ekosistem terjaga.
Bahan baku kompos disarankan memanfaatkan kotoran hewan seperti domba, sapi, atau ayam, ditambah hijauan, jerami, sisa pertanian, dedaunan, sekam, serta dedak dengan kandungan komplit NPK yang dibutuhkan oleh tanaman.
Peserta juga diajarkan menggunakan kapur pertanian, EM4, dan sekam atau dedak untuk pembuatan dekomposer mandiri berupa Mikroorganisme Lokal (MOL) dengan proses pengomposan minimal selama 14 hari tergantung bahan baku.
Sofyan sauri, penyuluh kegiatan.
"Dalam sesi praktik, peserta diajarkan cara memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan seperti Kotoran hewan (domba, sapi, atau ayam), hijauan, sisa-sisa pertanian seperti jerami, dedaunan, sekam, serta dedak. bahan kita sarankan disesuaikan dengan yang ada di lingkungan kita ya seperti kohe ya kotoran hewan mau domba, mau sapi, mau ayam ya silakan, kemudian tambah hijauannya, kemudian ada jerami ya sisa-sisa pertanian, ada jerami, ada daun-daunan, kemudian kita juga ada seperti sekam, kemudian ada dedak, ya itu kita buat kompos komplit namanya ya, jadi kandungannya nanti komplit NPK ya dan kandungan lainnya ya supaya nanti dibutuhkan oleh tanaman itu sudah ada semua dalam kompos ini," Ujar Sufyan Sauri, yang memberikan penyuluhan.
Kompos komplit ini bersifat universal untuk komoditas hortikultura seperti durian, jeruk, pepaya, sayuran, hingga tanaman pangan seperti padi, agar petani tidak bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia atau kotoran hewan mentah.
Kemampuan membuat kompos mandiri diharapkan dapat menekan biaya pengeluaran pertanian, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta mendukung sektor pendidikan dan pesantren, yang kemudian dilanjutkan materi dinamika kelompok, pembukuan, serta administrasi kelompok.

