DINAMIKA NEWS -- Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) mendesak pemerintah daerah di Jawa Barat, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, segera mengeluarkan surat imbauan terkait pelaksanaan kurban tanpa penggunaan plastik sekali pakai. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya tanah dan aliran sungai saat momentum Idul Adha.
Koordinator Nasional FK3I, Dedi Kurniawan, mengatakan bahwa pihaknya telah selama tujuh tahun mengkampanyekan gerakan bertajuk “Qurban Asik Tanpa Plastik”. Dalam program tersebut, masyarakat dan panitia kurban didorong menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti besek bambu dan daun tisuk sebagai pengganti kantong plastik.
Menurut Dedi, panitia kurban sebaiknya tidak lagi membagikan daging menggunakan plastik. Ia juga mendorong warga membawa wadah sendiri dari rumah melalui koordinasi RT dan RW agar penggunaan sampah plastik dapat ditekan secara signifikan.
“Panitia kurban diimbau tidak lagi memakai kantong plastik saat distribusi daging. Warga juga bisa membawa wadah masing-masing dari rumah,” ujar Dedi yang juga menjabat Ketua Dewan WALHI Jawa Barat.
Selain soal pengurangan sampah plastik, FK3I turut menyoroti pengelolaan limbah penyembelihan hewan kurban. Mereka mendorong panitia menyediakan lubang khusus untuk menampung darah dan limbah organik agar tidak mencemari tanah maupun sungai di sekitar lokasi penyembelihan.
FK3I menilai hingga saat ini masih banyak panitia kurban yang belum memiliki kepedulian terhadap dampak lingkungan dari aktivitas penyembelihan dan distribusi daging kurban. Karena itu, organisasi tersebut meminta pemerintah daerah turun tangan dengan menerbitkan surat edaran resmi sebagai bentuk edukasi dan dorongan kepada masyarakat.
“Dengan adanya imbauan dari pemerintah, diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga lingkungan dalam pelaksanaan ibadah kurban,” tegasnya.
FK3I berharap seluruh panitia kurban di berbagai daerah mulai menerapkan konsep kurban ramah lingkungan, sehingga pelaksanaan ibadah tetap berjalan khidmat tanpa menimbulkan pencemaran bagi lingkungan sekitar. (*/Jamil)