DINAMIKA NEWS — Senin pagi (5/1/2026) menjadi awal yang istimewa bagi keluarga besar SMP Muhammadiyah Purwojati. Halaman sekolah dipenuhi gelak tawa dan langkah ceria para siswa yang mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat, menandai dimulainya semester genap tahun pelajaran 2025/2026 dengan semangat baru dan hati yang hangat.
Kegiatan dilanjutkan dengan Apel Kebangsaan yang dipimpin Wakil Kepala Sekolah, Ibu Suparti, S.H. Dalam amanatnya, ia mengajak seluruh siswa untuk menata niat, menumbuhkan kedisiplinan, serta meneguhkan tekad menjadi pribadi yang lebih baik. Menurutnya, semester genap bukan sekadar pergantian waktu, melainkan momentum memperkuat karakter, mengasah akhlak, dan menjalani proses belajar dengan kesungguhan serta kegembiraan.
Suasana haru menyelimuti apel saat momen perpisahan Ibu Tri Murniati, S.Pd., Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati yang telah memimpin selama tiga periode dan kini memasuki masa purna tugas. Dengan suara bergetar, ia mengenang perjalanan panjang penuh tantangan, tawa, dan prestasi, termasuk keberhasilan sekolah meraih predikat Adiwiyata Nasional.
“SMP Muhammadiyah Purwojati adalah sekolah perjuangan. Prestasi ini lahir dari kebersamaan, nilai aqidah, dan akhlak mulia. Teruslah menjaga budaya kerja keras serta nilai-nilai Muhammadiyah. Saya yakin, di bawah kepemimpinan baru, sekolah ini akan terus maju dan berprestasi,” ungkapnya, disambut tepuk tangan hangat dan mata berkaca-kaca dari guru, staf, serta siswa.
Tongkat estafet kepemimpinan kemudian diserahkan kepada Bapak Nur Khasbi, S.H.I., M.M. Dengan senyum tulus dan penuh optimisme, ia mengajak seluruh warga sekolah untuk melihat setiap tantangan sebagai peluang serta memperkuat kerja sama demi menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif dan berkarakter Islami.
“Mari kita bergotong royong mencetak generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujarnya penuh semangat.
Para guru dan staf tampak saling menatap penuh makna, menyadari bahwa sebuah era telah berakhir dan lembaran baru kini terbuka. Ruang kelas, koridor, dan halaman sekolah seolah menyimpan jejak kenangan—tawa siswa, diskusi hangat para pendidik, dan momen-momen sederhana yang membentuk kekuatan sekolah. Kehangatan dan keteladanan Ibu Tri diyakini akan tetap membimbing langkah-langkah ke depan, meski beliau tak lagi hadir dalam rutinitas harian.
Sementara itu, para siswa menatap panggung dengan mata berbinar, menyadari bahwa hari itu bukan sekadar perpisahan, melainkan awal dari perjalanan baru. Alunan lagu Menyongsong Hari Baru menggema, menyatukan suara siswa, guru, dan staf, menandai dimulainya semester genap sekaligus tahun baru 2026 dengan tekad, semangat, dan harapan.
Hari itu menjadi lebih dari sekadar pergantian pemimpin. Ia adalah refleksi tentang arti dedikasi, kebersamaan, dan cinta pada dunia pendidikan. Setiap senyum, tepuk tangan, dan bisik haru menjadi saksi bahwa perjalanan sebuah sekolah adalah perjalanan hati—yang terus menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menyalakan semangat generasi muda.