Jakarta - Dinamika pasar modal dan nilai tukar Rupiah di Indonesia mengalami tekanan signifikan belakangan ini. Indeks Harga Saham Ganbungan atau IHSG mencatatkan penurunan tajam hingga lebih dari 3 persen.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat melemah hingga menyentuh kisaran Rp18.024. Fenomena ini memicu narasi di media sosial yang mengaitkannya dengan pidato Presiden Prabowo Subianto.
Ekonom dari InFast, Bestari Gede, menegaskan bahwa penurunan IHSG dan Rupiah merupakan bagian dari tren koreksi massal bursa saham internasional. Kondisi ini dipicu dinamika eksternal, bukan karena sentimen domestik.
Data menunjukkan sedikitnya ada 11 bursa saham di dunia berada dalam zona merah pada periode yang sama. Koreksi menyerang berbagai negara mulai dari negara berkembang hingga maju secara serempak.
"Penurunan IHSG merupakan bagian dari fenomena global, bukan semata-mata karena sentimen domestik. Secara mingguan, lima bursa dengan koreksi terdalam adalah Rusia (MOEX) -9,72 persen, Afrika Selatan (SA40) -6,02 persen, dan Indonesia (JCI) -5,42 persen," kata Bestari Gede, Kamis (25/6/2026).
Posisi pasar modal Indonesia berada di jalur yang sama dengan kejatuhan bursa internasional seperti MOEX Rusia dan SA40 Afrika Selatan. Hal ini mengonfirmasi modal global sedang bergerak keluar dari aset berisiko.
Bestari memaparkan publik perlu memahami fenomena decoupling, situasi di mana pergerakan pasar saham terpisah dari ekonomi riil. Pasar saham bergerak berdasarkan ekspektasi jangka pendek, sedangkan sektor riil berlandaskan kapasitas produksi domestik.
Indikator ekonomi riil Indonesia sendiri saat ini berada dalam kondisi yang sangat kokoh. Pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal I-2026 tetap tumbuh tinggi sebesar 5,6 persen meskipun pasar saham berfluktuasi.
"Pasar saham bisa turun karena sentimen merespons volatilitas geopolitik, tapi ekonomi sektor riil tetap tumbuh tinggi," kata Bestari Gede, Kamis (25/6/2026).