Jakarta - Peneliti Senior Citra Institute Efriza mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam memperkuat penanggulangan hoaks dan disinformasi di ruang digital.

Efriza menilai penguatan patroli digital yang dijalankan pemerintah menjadi strategi tepat untuk menjaga ekosistem informasi tetap sehat di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

"Langkah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam menangkal disinformasi patut diapresiasi. Penguatan patroli digital yang dilakukan menjadi strategi yang tepat untuk menjaga ruang digital tetap sehat dan meminimalkan penyebaran hoaks di masyarakat," ujar Efriza.

Tantangan penyebaran informasi palsu saat ini dinilai kian kompleks akibat maraknya penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta konten manipulatif berbasis deepfake.

Guna menekan dampak tersebut, Efriza memandang pengawasan Komdigi yang berkolaborasi dengan berbagai platform digital merupakan langkah krusial untuk mempercepat penanganan konten bermasalah.

"Patroli siber, kolaborasi dengan platform digital, pengawasan terhadap penyalahgunaan AI dan deepfake, serta pelibatan masyarakat merupakan instrumen penting untuk menjaga stabilitas ruang digital. Terobosan seperti ini memang dibutuhkan pada era perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat," katanya.

Keberhasilan penanganan disinformasi tidak hanya bergantung pada pemblokiran konten, melainkan juga pada kemampuan pemerintah dalam membangun kepercayaan publik terhadap informasi resmi.

Upaya pemberantasan hoaks perlu dilakukan secara transparan dan akuntabel agar tidak memicu persepsi adanya pembatasan terhadap kebebasan berekspresi masyarakat.

"Komdigi semestinya membangun kepercayaan publik terhadap informasi resmi sekaligus memastikan bahwa kritik yang disampaikan masyarakat tetap mendapatkan ruang dalam kehidupan demokrasi," ujarnya.