Jakarta - Rangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto selama 1,5 tahun pertama masa jabatannya berhasil mencatatkan komitmen investasi fantastis bagi Indonesia di tengah berbagai kritik publik.

Hingga April 2026, Presiden Prabowo tercatat telah melakukan 49 kunjungan ke berbagai negara untuk memperkuat posisi strategis Indonesia dalam persaingan global dan mengamankan stabilitas ekonomi nasional.

Pemerintah melaporkan bahwa akumulasi komitmen investasi dari mitra strategis seperti Korea Selatan, Jepang, dan Inggris telah menembus angka Rp665 triliun untuk berbagai sektor prioritas.

Dari Seoul, pemerintah berhasil mengamankan investasi senilai 10,2 miliar dolar AS atau setara Rp173 triliun yang difokuskan pada pengembangan energi hijau dan industri baterai kendaraan listrik.

"Kerja sama tersebut menjadi bukti semakin kuatnya hubungan strategis Indonesia dan Korea Selatan di tengah tantangan ekonomi global," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Selain itu, lawatan ke Jepang memberikan kontribusi terbesar dengan nilai komitmen mencapai Rp401 triliun yang menyasar penguatan infrastruktur dan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.

Presiden juga memperluas jangkauan ke Eropa dengan mengantongi komitmen investasi maritim senilai Rp90 triliun dari Inggris untuk pembangunan 1.582 unit kapal penangkap ikan nasional.

Langkah diplomasi ekonomi ini diambil pemerintah sebagai strategi menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipengaruhi faktor eksternal.

Tekanan terhadap mata uang dipicu oleh tingginya suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasar keuangan internasional.