DINAMIKANEWS — Dakwah tidak cukup hanya disuarakan, tetapi harus dikerjakan. Prinsip inilah yang diteguhkan dalam rapat khusus Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Banyumas yang digelar Selasa sore, 6 Januari 2026, hingga pukul 21.00 WIB di Café Kupi Angkasa, Purwokerto. Dari forum tersebut, PDPM Banyumas menegaskan Ijabah (Inisiasi Jelantah Berkah) sebagai arsitektur dakwah ekonomi berkemajuan yang membumi dan berdampak.

Ijabah bukan sekadar badan usaha. Ia lahir dari kegelisahan ekologis dan kepedulian sosial PDPM Banyumas terhadap persoalan lingkungan hidup, khususnya limbah minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang sembarangan. Praktik tersebut terbukti mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas air. Karena itu, Ijabah dimaknai sebagai gerakan berjamaah yang mengajak masyarakat mengelola limbah secara berkelanjutan sekaligus bernilai ekonomi.

Melalui Ijabah, PDPM Banyumas menghadirkan nilai-nilai Islam dalam sistem produksi dan pengelolaan sumber daya. Limbah jelantah yang sebelumnya tak bernilai diolah menjadi sumber keberkahan dan kemaslahatan. Inilah wujud dakwah yang tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir dalam kerja nyata yang terorganisasi, produktif, dan transformatif.

Program Ijabah secara resmi diluncurkan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, KH. Drs. M. Djohar AS, M.Pd., pada kegiatan Jalan Sehat Akbar Warga Muhammadiyah Banyumas di kawasan Menara Pandang Purwokerto, Ahad, 23 November 2025. Peluncuran tersebut menegaskan posisi Ijabah sebagai ikhtiar ekonomi strategis PDPM Banyumas, sekaligus memperkuat eksistensi unit usaha yang telah berjalan, seperti Café Kupi Angkasa dan BMT Cahaya Semesta.

Ketua Bidang Ekonomi PDPM Banyumas, Arief Sitegar, menegaskan bahwa Ijabah merupakan ruang dakwah yang membumi dan memberdayakan. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak dapat ditopang oleh segelintir pihak, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh komponen persyarikatan agar manfaatnya meluas, berorientasi maslahat, dan memperkuat kemandirian ekonomi kader.

Sementara itu, Bendahara PDPM Banyumas, Ricky Giantoro, menekankan pentingnya tata kelola yang profesional. Keberlanjutan Ijabah, ujarnya, bertumpu pada kualitas pelayanan, kepercayaan publik, serta manajemen keuangan yang tertib dan transparan. Setiap rupiah harus dapat dipertanggungjawabkan agar manfaatnya kembali kepada organisasi dan umat. Dengan prinsip tersebut, Ijabah menjadi sarana kaderisasi ideologis sekaligus dakwah berkemajuan yang bermoral dan berkeadaban.

Ketua PDPM Banyumas, Subhan Purno Aji, S.IP., M.A., menegaskan bahwa Ijabah merupakan ruang kaderisasi ekonomi. Para kader dilatih mengelola amanah, disiplin terhadap sistem, dan bertanggung jawab secara organisatoris. Kemandirian ekonomi, menurutnya, menjadi penopang penting bagi dakwah dan gerakan sosial Pemuda Muhammadiyah. Dalam pengelolaannya, Ijabah menekankan penerapan SOP yang jelas, strategi pemasaran yang terukur, serta penguatan kemitraan dengan PDM PDA, PCM PCA, PCPM, AMM, dan AUM se-Banyumas.

Melalui Ijabah, PDPM Banyumas memilih jalan dakwah melalui kerja nyata—membangun ekonomi yang bermoral, berkelanjutan, dan berkeadaban. Dari jelantah yang terbuang, lahir nilai dan keberkahan. Inilah dakwah berkemajuan yang membumi dan transformatif.

(Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)