BOGOR, WWB.CO.ID – Tanah mulai mengering, angin berhembus kencang pertanda musim hujan mendekati usai. Tapi Bogor tidak mengenal kata kemarau. Kota ini hampir selalu basah, entah karena air yang jatuh dari langit atau oleh kenangan lama yang membekas. Awan di langit Bogor bergerak dan berubah warna sesukanya. Putih ke abu, abu ke hitam, seolah berteriak ingin menegaskan, “Hujan itu identitasku, milikku”.

Di tengah menikmati keanehan cuaca itu, saya disadarkan oleh karya unit alternative rock, Hadson yang meraung-raung di pemutar lagu. Sayatan gitar merayap perlahan untuk kemudian disusul dentuman drum serta lengkingan suara yang meneriakan “It’s Mine” dengan lantang. Sekilas, suara itu mengingatkan pada mendiang Chris Cornell, pentolan Soundgarden juga Audioslave.

Hal pertama yang menarik perhatian dari racikan trio ini adalah suara gitar bercita rasa seatlle sound. Membawa nuansa saat band-band grunge seperti Pearl Jam dan Nirvana merajai panggung musik dunia. Selain itu, banyak sekali selipan unsur yang akan mengingatkan pendengarnya pada Faith No More, Foo Fighters, hingga Hanson.

Lawas, keras, santai, nakal, tapi serius adalah imaji yang coba Hadson tanamkan lewat single perdana mereka yang bertajuk “It’s Mine; It’s My Life”.

Tutur Jaling sang vokalis pun layak diacungi jempol. Pelafalan lirik berbahasa inggris ia lahap dan muntahkan dengan sempurna. Saya curiga dia memang seorang dengan kemampuan bahasa inggris di atas rata-rata. Terbukti saat menjelaskan tentang nama band-nya. Menurut Jaling, meski Hadson adalah bahasa inggris tapi pemaknaannya menggunakan grammar bahasa indonesia dan memiliki definisi seseorang yang pernah dan masih mempunyai anak. Singkatnya, telinga awam seperti saya, akan mengira Hadson band dari luar Indonesia karena alasan itu. Tentu faktor komposisi musik serta produksi ciamik jadi yang utama.

Membaca atau mendengar kalimat “It’s Mine; It’s My Life” akan membuat orang berpikir lagu ini tentang penegasan pemikiran seorang rockstar yang kadung dicap semau gue. Padahal lirik lagu ini bercerita tentang sikap saling menghargai dan tidak merendahkan orang lain. Setidaknya begitu menurut Rega Kuncus, sang penabuh drum.

Soal genre, Hadson memilih menyebut diri mereka band alternative rock. Meski seharusnya dari single perdananya ini bisa ditebak arah dan referensi musik Jaling, Kobel, dan Kuncus. Scenester Bogor pasti akrab dengan ketiga nama itu. Mereka adalah musisi-musisi yang sudah malang melintang lebih dari satu dekade dan sukses mengibarkan nama Skate Fast di belantara skena skate punk.

Hadson bisa jadi alternatif menyenangkan, oase di tengah gempuran folk yang menjajah penikmat musik. Penyeimbang semesta rasa, pelipur lara mereka yang merindukan atmosfer lama dengan sentuhan kekinian.

Angin masih bertiup kencang, seperti Hadson yang bergerak cepat menyelesaikan proses rekaman dan mixing seluruh lagu yang mereka miliki. Rencananya, bulan Februari akan dirilis hingga bisa dinikmati secara utuh. Percayalah, alternatif rock ala Hadson layak disimak dan memenuhi daftar putar.