DINAMIKA NEWS – Penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas mutu kehidupan di Kota Bogor. Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Hukum dan HAM Sekretariat Daerah Kota Bogor, Dr. (C) H. Alma Wiranta, SH., M.Si (Han), dalam agenda dengar pendapat bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor.

Dalam pemaparannya, Alma menegaskan bahwa peran regulasi tidak hanya terbatas pada aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, menjaga marwah Kota Bogor membutuhkan keterlibatan kolektif antara pemerintah dan warga.

“Regulasi fisik dan mental memang tidak cukup di ASN saja. Kalau mau marwah Bogor terjaga, nilai itu harus hidup di masyarakat juga,” ujar Alma.

Ia menjelaskan, terdapat dua aspek penting yang harus berjalan beriringan, yakni regulasi fisik dan regulasi mental. Regulasi fisik meliputi penataan ruang, penyediaan fasilitas publik, kebersihan, sistem transportasi, serta kesehatan lingkungan yang ditegakkan secara konsisten kepada seluruh warga tanpa terkecuali.

Sementara itu, regulasi mental berfokus pada pembentukan karakter masyarakat melalui edukasi, peningkatan literasi digital, etika dalam bermedia sosial, serta penguatan nilai gotong royong yang ditanamkan sejak dini, mulai dari lingkungan sekolah hingga komunitas tingkat RT dan RW.

Lebih lanjut, Alma menekankan pentingnya sinergi antara ASN dan masyarakat. ASN diharapkan menjadi teladan dalam berperilaku, sedangkan masyarakat berperan sebagai pengawas sekaligus pelaku aktif dalam menjalankan nilai-nilai tersebut. Program-program seperti “Bogor Ngariung” dan kegiatan Jumling (Jumat Keliling) dinilai efektif sebagai sarana menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

“Maslahat harus menjadi kompas dalam setiap kebijakan dan tindakan. Setiap langkah harus diukur dari manfaat dan mudaratnya,” tegasnya.

Alma juga mengingatkan bahwa arah pola pikir masyarakat perlu dibangun ke arah yang konstruktif. Menurutnya, jika kesadaran dan hati nurani warga sudah terbentuk untuk menjaga setiap tindakan, maka implementasi regulasi akan berjalan lebih ringan dan efektif.

“Kalau hati nurani sudah tertanam untuk menjaga langkah, regulasi tertulis jadi ringan dijalankan. Bogor tidak hanya bagus dari sisi infrastruktur, tetapi juga kuat secara mental,” pungkasnya.