JAKARTA – Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.400 per dolar AS dan memicu keresahan publik. Di media sosial, muncul tudingan bahwa pemerintah maupun Bank Indonesia sengaja membiarkan pelemahan ini. Namun, analisis menunjukkan tekanan rupiah lebih banyak dipengaruhi dinamika global.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan rupiah saat ini undervalue. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I mencapai 5,61%, inflasi rendah, cadangan devisa kuat, dan kredit yang tumbuh tinggi, rupiah seharusnya memiliki landasan untuk stabil. Meski begitu, penguatan dolar AS akibat suku bunga tinggi dan yield obligasi Amerika membuat hampir semua mata uang emerging market tertekan.

Selain faktor global, ada tekanan musiman seperti repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan jamaah haji. Fenomena ini juga dialami yen Jepang, won Korea Selatan, peso Filipina, hingga rupee India. Pasar masih mencermati kebijakan Federal Reserve yang menahan suku bunga tinggi lebih lama, ditambah konflik geopolitik yang mendorong harga minyak naik.

Kebijakan pembatasan pembelian dolar maksimal US$25.000 per bulan bukan tanda krisis. BI sudah pernah menerapkan aturan serupa sejak 2015 untuk mencegah spekulasi berlebihan. Langkah ini lazim dilakukan bank sentral di berbagai negara.

Mengapa rupiah belum langsung menguat? Stabilitas kurs tidak bisa dicapai seketika. Investor menunggu konsistensi kebijakan, bukan sekadar pengumuman. BI menegaskan strategi penguatan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari intervensi pasar valas hingga koordinasi dengan pemerintah.

Fundamental domestik Indonesia relatif masih terjaga. Cadangan devisa memadai, sektor perbankan kuat, dan inflasi terkendali. Investor global menilai bukan hanya kurs harian, tetapi juga stabilitas fiskal, neraca perdagangan, dan kepercayaan pasar.

Fluktuasi rupiah perlu dilihat dalam konteks global. Pelemahan kurs memang berdampak pada impor dan biaya energi, tetapi menjaga stabilitas psikologis pasar sama pentingnya. Fokus pemerintah dan BI saat ini adalah memastikan likuiditas dolar tersedia dan kepercayaan investor tetap terjaga.

Narasi bahwa pelemahan rupiah sepenuhnya direkayasa pemerintah perlu disikapi lebih kritis, karena tekanan terhadap mata uang negara berkembang memang sedang meningkat akibat kombinasi suku bunga tinggi AS, konflik geopolitik, dan arus modal internasional.*