BOGOR – Rencana reduksi atau pengurangan angkutan kota (angkot) trayek Ciomas, Kabupaten Bogor, kembali menjadi perhatian. Kebijakan tersebut dinilai perlu dilakukan untuk menyesuaikan jumlah armada dengan kondisi penumpang dan keberadaan angkot yang masih aktif beroperasi.
Sekretaris Korda Jawa Barat Wilayah I Bogor, Yadi Indra Mulyadi, mengatakan rencana reduksi telah disosialisasikan sejak Juni 2026. Menurutnya, langkah tersebut bukan bertujuan mematikan usaha pengusaha maupun pengemudi angkot, melainkan meningkatkan pendapatan mereka.
“Kenapa reduksi? Sebetulnya bukan ingin membunuh, justru ingin meningkatkan penghasilan teman-teman pengusaha dan teman-teman pengemudi. Tujuannya ke sana,” ujar Yadi.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Barat terdapat sekitar 371 angkot untuk trayek yang berkaitan dengan wilayah Ciomas. Namun, kondisi di lapangan dinilai tidak menunjukkan seluruh armada tersebut aktif beroperasi.
Menurut Yadi, kondisi tersebut membuat terjadi kelebihan suplai armada, sementara jumlah penumpang mengalami penurunan akibat masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi berbasis aplikasi.
“Data ini banyak, padahal realita di lapangan tidak seperti itu. Penumpang sudah berkurang karena banyak yang pindah menggunakan kendaraan pribadi maupun aplikator,” katanya.
Yadi menyebut program reduksi atau scraping diharapkan dapat menjadi solusi bagi angkot-angkot yang sudah berusia tua dan sulit diremajakan oleh pemiliknya. Armada yang sudah tidak layak diharapkan dapat dihentikan, sementara pengemudi dan armadanya dialihkan untuk memperkuat angkot yang masih beroperasi.
Ia berharap pola tersebut dapat membuat pengemudi bekerja lebih efektif. Jika sebelumnya sistem sif membuat pengemudi hanya bekerja sekitar 20 hari, setelah dilakukan penataan diharapkan armada yang masih aktif dapat beroperasi lebih banyak hari sehingga peluang peningkatan pendapatan pengemudi juga semakin besar.
Namun, Yadi mengakui masih terdapat persoalan komunikasi terkait pelaksanaan reduksi di lapangan. Ia mengatakan pihaknya tetap membuka ruang komunikasi dengan para pemilik dan pengemudi angkot.