KAB.BOGOR, WWB.CO.ID – PT Semen Indonesia Grup Tbk (SIG) turut berpartisipasi dalam mengatasi persoalan sampah kota dengan prinsip ekonomi sirkular melalui konversi sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif.
Direktur Manufakturing PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), Sony Asrul Sani mengaku mulai menggunakan alternatif bahan bakar dimulai sejak 1993.
“Dari perjalanan yang panjang, dan kita punya kemampuan teknis yang mempuni, sehingga sampai dengan saat ini kita mengkonsumsi berbagai macam bahan bakar alternatif baik yang berasal dari industri maupun dari limbah pertanian. Dan sekarang yang lagi trend (RDF),” kata Sony disela-sela kunjungan di Green Zon Narogong bersama sejumlah Jurnalis, Rabu (16/8/23).
Pihaknya berkomitmen mengunakan bahan bakar alternatif tersebut. Hal itu, sebagai salah satu upaya mendukung program pemerintah mengurangi Co2.
“Seperti yang sudah saya sampaikan SIG sudah secara clear membuat roadmap sampai 2030. Dan, disana peran alternatif coal atau alternatif material menjadi sangat strategis bagi SIG,” katanya.
Disamping itu, SIG akan memasang fasilitas pengolahan untuk alternatif coal atau alternatif material di seluruh plannya mulai dari Aceh, Padang, Narogong, Cilacap, Rembang dan Tuban. “Saya kira itu komitmen yang kita lakukan atau mengkonsumsi bahan bakar alternatif,” jelasnya.
Secara teoritis kata Sony, RDF bahan bakar alternatif yang memiliki kalori walaupun dibawah batu bara. “Namun alat kita didesain dengan bahan bakar dengan nilai kalori tertentu sehingga ada keterbatasan kalau seluruhnya digantikan dengan RDF. Tentunya akan ada kombinasi antara batu bara sebagai bahan utama dan RDF ini sebagai bahan alternatif material,” terangnya.
Menurutnya, bisa jadi kedepan pihaknya tidak hanya mengunakan RDF, akan tetapi limbah-limbah industri yang lain. “Karena tidak semua kota yang ada plan kita menyediakan bahan alternatif coal. Namun beruntung pabrik-pabrik kita yang ada di Jawa mempunyai sumber alternatif coal yang berasal dari industri,” ujarnya.
Ia menilai, dengan pembakaran mencapai temperatur 1.800, emosi dari zat-zat berbahaya akan hilang jika dibandingkan dengan cara dibakar di penduduk (konpesonal). “Justru itu akan bahaya apabila terhisap. Karena semua emisi cerobong kita yang terkoneksi dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu jauh dibawah ambang batas,” terangnya.
