Pimpinan Ponpes Modern Ummul Quro al Islami: Tugas Seorang Pemimpin
BOGOR - Al-Qur'an merekam sebuah episode penting tentang Bani Israil. Anak-cucu keturunan Nabi Ya’kub tersebut telah mengalami berbagai kejadian. Pasang surut kehidupan mereka jalani setelah sempat dibebaskan dari penjajahan Fir’aun Mesir oleh Nabi Musa. Masa kemerdekaan di tanah yang dijanjikan tidak berlangsung lama. Atas ulah mereka sendiri yang selalu menyalahi aturan para nabi, Bani Israil Kembali hidup dalam kesengsaraan.
Berabad-abad mereka hidup di bawah tekanan dan penjajahan. Mereka kehilangan kemerdekaan, kehilangan kehormatan, bahkan hampir kehilangan kepercayaan terhadap masa depan.
Dalam keadaan seperti itu mereka datang kepada nabi mereka, yang oleh para ulama disebut sebagai Nabi Samuel. Dengan suara yang diliputi harap sekaligus putus asa mereka berkata, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 246): “Angkatlah untuk kami seorang raja, agar kami dapat berperang di jalan Allah.” Nabi Samuel pada awalnya merasa enggan.
Beliau mengetahui betul tabiat Bani Israel yang tidak setia dan sering kali berdusta. “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga.” Mendengar jawaban Nabi Samuel yang seolah tidak percaya, pembesar Bani Israel menegaskan komitmen akan teguh pendirian untuk berjuang di jalan Allah.
“Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan sungguh kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” Nabi Samuel kemudian memohon petunjuk kepada Allah. Dari wahyu yang diterimanya, Allah menunjuk seorang lelaki sederhana bernama Thalut sebagai pemimpin mereka.
Namun reaksi Bani Israil sungguh mengejutkan. Mereka menolak. Bagi mereka, Thalut bukan siapa-siapa. Dia bukan bangsawan. Dia bukan orang kaya. Ia hanyalah seorang penggembala kambing. Mereka merasa ada orang lain yang lebih pantas memimpin dibandingkan lelaki itu. Al-Qur'an mengabadikan kisah ini: "Dan nabi mereka berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu." Mereka menjawab, "Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?" (Nabi) menjawab, "Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik." Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui?" (QS. Al-Baqarah: 247) Mendengar penolakan Bani Israel, Nabi Samuel dengan sabar menjelaskan alasan rasional kenapa Allah memilih Thalut sebagai raja.
Pertama karena Thalut memiliki keluasan ilmu sebuah kualitas yang sangat dibutuhkan dalam membuat strategi dalam berperang. Kedua Thalut secara fisik sangat kuat, lelaki pengembala kambing itu sangat siap terjun langsung ke medan perang. Dua kekuatan ini; keluasan ilmu dan kekuatan jasmani yang dibutuhkan oleh Bani Israel dalam perang. Bukan garis keturunan. Bukan kekayaan. Bukan popularitas.
Akhirnya Bani Israil menerima kepemimpinan Thalut, meskipun banyak di antaranya masih menyimpan keraguan di dalam hati. Kualitas kepemimpinan Thalut yang disampaikan oleh Nabi Samuel akan diuji saat berperang melawan Jalut dan bala tentaranya. Sudah bukan rahasia lagi, Raja Jalut adalah tiran yang sangat kejam.