Seperti yang dikeluhkan para pengrajin bordir (mesin manual). Salah satunya Yusuf Syaprudin (50). Bahwa bantuan UMKM yang disalurkan tersebut, menurutnya, mayoritas tidak sesuai kepada yang berhak sebagai penerima manfaat (bukan orang ahlinya).
“Bukan cemburu sosial, tapi ini hanya kritik membangun saja. Selama ini, para pengrajin bordir manual dan pedagang lainnya kurang perhatian,” ucapnya, Minggu (11/10/2020).
Para pengrajin bordir manual berharap, kedepan mendapatkan program bantuan UMKM untuk tambahan modal usaha. Artinya bisa dirangkul oleh Pemkab Cianjur.
“Yaitu mengenai program bantuan UMKM yang selama ini digembor-gemborkan pemerintah,” kata Yusuf.
Ia mengerti dan paham, karena pernah jadi instruktur di bidang bordir. Ternyata yang ngambil itu orang-orang salon, bukan ahlinya bidang bordir.
“Jujur saja dan perlu diakui, itu anggaran bantuan bukan sedikit ratusan juta. Sangat disayangkan kenapa dikasihkan kepada orang bukan ahlinya,” ujar Yusuf.
Saat ini, yang masih tersisa pengrajin bordir menggunakan mesin manual diantaranya di jajaran Ruko, Jalan Moch Ali, Kelurahan Solokpandan. Kemudian, di Ramayana, Jalan Dr Muardi, Kelurahan Muka, Kecamatan Cianjur.
“Ya, hingga saat ini. Alhamdulillah masih bisa bertahan secara bertahap, setidaknya ada saja milik rejeki,” aku Yusuf.