Purwakarta, wwb.co.id — Sejarah sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh bangunan-bangunan megah. Sejarah juga dibangun oleh orang-orang yang meletakkan fondasi pertama sebuah peradaban. Mereka mungkin telah lama wafat, tetapi gagasan, perjuangan, dan pengabdiannya terus hidup melintasi zaman. Di antara tokoh yang memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Purwakarta adalah Kanjeng Dalem Sholawat. Meski makamnya berada di Kota Bogor, jejak perjuangannya justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lahir dan tumbuhnya Purwakarta. Inilah mengapa masyarakat masih mengenangnya sebagai salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah daerah tersebut. Pada Jum'at, (27/07/2026).
Momentum itu kembali terasa dalam Rapat Paripurna Hari Jadi Purwakarta ke-195 Dalam pidatonya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mengenang masa-masa awal kehidupannya ketika pertama kali menetap di Sindangkasih, sebelum kemudian berpindah ke Sukarata. Dari kawasan sederhana itulah perjalanan panjangnya dimulai hingga menjadi anggota DPRD, Wakil Bupati, Bupati Purwakarta selama dua periode, anggota DPR RI, dan kini dipercaya memimpin Provinsi Jawa Barat.
"Kuring sok ngeclak cimata lamun nincak Purwakarta, sabab Purwakarta lain saukur hiji kabupaten pikeun kuring mah lembur matuh dayuh maneuh Banjar Karang Pamidangan ...pami nyaritakeun hirup, hirup kuring pan ngawitan di Purwakarta, ti kawit kuliah ngagoler di Sinang Kasih, ngagoler di Sukarata, ngagoler di Usman Singawinata, ngagoler di Situ Buleud, ngagoler politik di kantor Golkar zaman harita, di sekretariat Golkar, ngagoler di musala jadi tukang ketik pidato kersana almarhum Kolonel Haji Bisri Harjoko, dugi ka kantos janten ketua komisi E DPRD Kabupaten Purwakarta" Ucapnya mengenang awal mula titian karirnya di Purwakarta.
Penyebutan nama Sindangkasih menjadi menarik bukan semata karena alasan geografis. Dalam riwayat keluarga Kanjeng Dalem Sholawat serta berbagai tradisi lisan yang masih diwariskan, kawasan tersebut juga dikenal sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan beliau ketika merintis wilayah yang kemudian berkembang menjadi Purwakarta.
Tentu sejarah tidak dibangun di atas kebetulan. Namun menarik ketika dua tokoh dari dua abad yang berbeda sama-sama memiliki keterkaitan dengan ruang sejarah yang sama. Yang satu dikenang sebagai perintis yang meletakkan fondasi peradaban, sementara yang lain dikenal sebagai pemimpin yang membangun dan menghidupkan kembali identitas budaya Purwakarta.
Pertemuan dua narasi sejarah itu terasa semakin bermakna dengan hadirnya Raden Muhammad Padmanegara, perwakilan keluarga Kanjeng Dalem Sholawat dari Kota Bogor, yang didampingi Founder Bela Purwakarta, Aa Komara. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi menjadi simbol bahwa hubungan antara keluarga para pendiri Purwakarta dengan perjalanan daerah ini masih terus terjalin hingga hari ini.
Dalam kesempatan tersebut, keluarga Kanjeng dalem sholawat menyampaikan rencana penyelenggaraan Haul ke-154 Kanjeng Dalem Sholawat yang akan dilaksanakan di Kota Bogor. Raden Muhammad Padmanegara juga menyampaikan undangan kepada Gubernur Jawa Barat untuk hadir sebagai tamu kehormatan.
"Dalam momen itu saya sekalian menyampaikan undangan kepada Gubernur Jawa Barat untuk hadir sebagai tamu kehormatan diacara Haul ke 154 Kanjeng dalem Sholawat yang akan digelar di Kota Bogor" Terangnya.
Ia menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kepada generasi muda siapa tokoh-tokoh yang telah membangun daerah ini, bagaimana mereka mengabdikan hidupnya bagi masyarakat, serta mengapa sejarah tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Beliau dimakamkan di Kota Bogor, tetapi jejak sejarah dan pengabdiannya justru terus bergema di Purwakarta.Â
