Bogor, wwb.co.id - Kasus penganiayaan yang menyebabkan putusnya jari seorang ibu di Kota Bogor terus menjadi sorotan publik. kali ini mahasiswa turut menyoroti perkara ini, menurutnya perkara yang berlarut-larut tanpa penjelasan yang memadai, bisa berpotensi menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan pidana. Pada Kamis (23/07/2026).
Menurut salah satu Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Fernando Mandalaka, ukuran keberhasilan penegakan hukum bukan hanya terletak pada penetapan tersangka, tetapi juga pada kepastian penyelesaian perkara dalam waktu yang wajar. Menanggapi perkara yang berlarut-larut selama setahun lebih ini.
https://www.wwb.co.id/kasus-jari-putus-sudah-1-tahun-mengapa-tersangka-belum-juga-ditahan
"Menurut saya, ukuran keberhasilan penegakan hukum bukan hanya terletak pada penetapan tersangka, tetapi juga pada kepastian penyelesaian perkara dalam waktu yang wajar. Apabila suatu perkara berlarut-larut tanpa penjelasan yang memadai, masyarakat berpotensi kehilangan kepercayaan terhadap sistem peradilan pidana," Jelasnya.
Ia juga memandang perkara ini salah satu bentuk tindak pidana yang harus ditangani secara profesional, objektif, dan transparan dan proses penegakan hukum tidak boleh dipengaruhi oleh status sosial, ekonomi, maupun relasi para pihak.
"Sebagai mahasiswa hukum, saya memandang bahwa perkara penganiayaan yang mengakibatkan cacat fisik permanen merupakan salah satu bentuk tindak pidana yang harus ditangani secara profesional, objektif, dan transparan. Dalam negara hukum, proses penegakan hukum tidak boleh dipengaruhi oleh status sosial, ekonomi, maupun relasi para pihak." Ungkapnya
Ia berharap setiap perkara yang menimbulkan perhatian publik dapat diselesaikan secara profesional dan independen.
"Saya berharap setiap perkara yang menimbulkan perhatian publik dapat diselesaikan secara profesional, independen, dan berdasarkan alat bukti yang sah, sehingga apa pun hasil akhirnya dapat diterima sebagai wujud penegakan hukum yang adil dan berintegritas" Tutupnya.
