BOGOR,wwb.co.id  Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sukaraja, Dr. Yudianto, M.Pd., M.Si., menegaskan pentingnya penanganan menyeluruh terhadap 1.604 Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah Sukaraja. Hal tersebut disampaikan dalam agenda Rapat Penanganan ATS di Desa Sukatani, Selasa (25/11/25).

Dalam pertemuan tersebut, Dr. Yudianto menjelaskan bahwa pendidikan memiliki pengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Ketika pendidikan tinggi, kesejahteraan keluarga juga meningkat. Sebaliknya, jika pendidikan rendah, maka kesejahteraan pun rendah. Jadi hubungan antara pendidikan dan kesempatan kerja itu sangat linear,” tegasnya.

Menurut Yudianto, sejumlah anak di Sukatani sebenarnya tetap bersekolah, namun di pesantren atau lembaga nonformal sehingga tidak terdata di Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Kondisi tersebut menyebabkan mereka tercatat sebagai ATS.

“Pesantren tidak masuk dalam sistem Dapodik. Karena itu, anak yang sebenarnya sekolah tetap muncul sebagai ATS. Operator sekolah harus memverifikasi ke RT dan RW untuk memastikan kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut, Yudianto menyoroti bahwa Desa Sukatani belum memiliki Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), padahal PKBM sangat dibutuhkan bagi anak putus sekolah ataupun warga yang tidak dapat mengakses sekolah formal.

“Kalau PKBM belum ada, maka desa harus membentuknya. Laporkan kepada kami, nanti K3S bersama dinas akan membantu mengurus persetujuannya,” kata Yudianto.

Ia menegaskan bahwa pembelajaran di PKBM bersifat fleksibel dan dapat memanfaatkan ruang kelas SD Sukatani untuk kegiatan belajar. Tenaga pengajar juga dapat dibantu melalui koordinasi dengan K3S dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.

Yudianto menuturkan bahwa PKBM memberikan kesempatan belajar tanpa hambatan biaya. Peserta dapat mengikuti Paket A, B, atau C dengan ijazah resmi yang diakui negara.