BOGOR - Proyek pembangunan Jembatan Otista Kota Bogor kembali menjadi sorotan publik. Ketua Balad Bogor, Heri, menilai sejak awal proyek tersebut sudah menuai persoalan dan kini kembali dipertanyakan setelah muncul dugaan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi teknis.
Heri mengatakan, proyek yang seharusnya menjadi simbol peningkatan konektivitas dan keselamatan masyarakat justru memunculkan kekhawatiran terkait kualitas konstruksi.
Menurutnya, sorotan utama mengarah pada dugaan penggunaan material Glassfiber Reinforced Cement (GRC) pada bagian tertentu jembatan. Sejumlah pihak menilai material tersebut tidak lazim digunakan untuk elemen vital yang menanggung beban besar.
“Jika dugaan itu benar, maka persoalan ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi menyangkut standar keselamatan publik. Jembatan harus dibangun dengan material yang teruji dan sesuai spesifikasi,” ujar Heri, Kamis (30/4/26).
Ia menambahkan, proyek bernilai miliaran rupiah itu kini menjadi perhatian masyarakat karena dinilai sejak awal sudah bermasalah dan sarat pencitraan.
Di tengah polemik tersebut, lanjut Heri, muncul pula dugaan bahwa pemilihan material berkaitan dengan upaya efisiensi biaya. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai spesifikasi teknis maupun proses pengawasan proyek.
Minimnya transparansi, kata dia, justru memicu tuntutan masyarakat agar dilakukan audit independen dan investigasi menyeluruh.
Heri mendesak pemerintah daerah serta kontraktor segera memberikan klarifikasi terbuka kepada publik dan memastikan keamanan konstruksi Jembatan Otista.
“Kasus ini menjadi ujian komitmen pemerintah dalam menjaga standar pembangunan dan akuntabilitas. Publik menunggu kejelasan,” pungkasnya.