Warga asal Kampung Baru Leuwigoong RT5/18, Desa Pamoyanan, Kecamatan Cianjur Kota, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini, mengaku ikhlas jadi pemulung. Membantu suami yang hanya kerja serabutan (kuli panggul). Yang kini, menjadi tukang parkir. Itu dilakukannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Kami punya anak sudah lima, yang dua sudah lulus sekolah. Dua masih sekolah SMP dan SD. Lalu, paling kecil usia enam tahun," akunya, saat sedang rehat duduk sejenak minum di pinggir trotoar, Jalan Adi Sucipto (depan Bank BRI), kepada wwb.co.id, Senin (14/9/2020).
Lilis, mengaku ikhlas menjalani hidup menjadi pemulung untuk membantu tambahan ekonomi suaminya sehari-hari, ternyata sudah hampir sekitar 20 tahun.
Meskipun, ia mengeluhka kehidupan bersama keluarga terkadang dipandang sebelah mata. Namun, pekerjaan tersebut alangkah jauh lebih baik ketimbang mencuri, korupsi atau melakukan tindakan kejahatan lain yang sifatnya dilarang.
"Saya ikhlas dan ridho, jadi pemulung. Demi anak-anak untuk kebutuhan sehari-hari. Asalkan halal dan barokah mencari rezeki" ucapnya terlihat tegar dan penuh keyakinan.
Diketahui, kelima anak itu masing-masing diantaranya M. Roup (21), Hernawansyah (15), Hernawati (14), Riska Sumiati (12) dan terakhir paling bungsu Susilawati (6), terlihat sedang digendong ikut mencari barang bekas menemaninya.
Lilis menuturkan, selain keseharian mencari barang bekas (rongsokan). Ia tinggal ngontrak bersama kelima anak dan suaminya. Bahkan, penghasilan sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per hari ditabung, untuk membayar keperluan kontrakan, makan dan kebutuhan sehari-hari. "Bayar kontrakan sebulan Rp200 ribu, ada ukuran sekitar 4×5 meter," akunya.
Lilis beraktivitas rutin setiap hari berangkat memungut barang bekas keliling pukul 16.00 WIB. Lalu, pulang sekitar pukul 22.00 WIB malam.