Kunjungan kenegaraan Presiden Brasil, Lula da Silva, ke Indonesia menarik perhatian dunia. Salah satu agenda utama kunjungan ini adalah meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama Presiden RI Prabowo Subianto di sebuah sekolah yang menjadi penerima manfaat.

Program MBG Indonesia diakui sebagai salah satu inovasi kebijakan sosial paling progresif di dunia, dengan pencapaian yang mengesankan dalam waktu singkat. Dalam waktu kurang dari satu tahun, program ini telah menjangkau 36,7 juta penerima manfaat, termasuk siswa SD hingga SMA, santri di pesantren, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan membandingkan MBG Indonesia dengan Programa Nacional de Alimentação Escolar (PNAE) di Brasil, yang telah ada sejak 1955. "Brasil butuh sebelas tahun untuk melayani 40 juta orang, sementara Indonesia hanya butuh satu tahun untuk mencapai 36,7 juta. Ini menunjukkan kerja nyata seluruh pihak," kata Prabowo, Jumat (15/10).

Dari segi cakupan, MBG Indonesia memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Jika PNAE di Brasil hanya fokus pada anak sekolah, MBG menargetkan kelompok yang lebih rentan dan strategis, seperti ibu hamil dan balita. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengatasi kelaparan, tetapi juga menurunkan angka stunting dan memperkuat fondasi kesehatan generasi masa depan.

Perbedaan mencolok juga terlihat dari besaran anggaran. PNAE mengalokasikan sekitar Rp4.000 per penerima per hari, sementara MBG Indonesia mencapai Rp15.000 per orang. Anggaran yang lebih besar ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memastikan kualitas bahan pangan, keseimbangan gizi, dan keberlanjutan pasokan makanan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa pendanaan MBG berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan sistem pengawasan dan digitalisasi data penerima manfaat. "Kecepatan dan ketepatan distribusi MBG menjadi tonggak penting dalam sejarah kebijakan sosial Indonesia," ujarnya, Senin (20/10/2025).

Menariknya, meskipun baru berjalan satu tahun, MBG telah mampu menyaingi bahkan melampaui efektivitas program sejenis di negara lain. Di Brasil, PNAE telah berjalan hampir tujuh dekade dan diperingati setiap 21 Oktober sebagai Hari Pemberian Makanan Sekolah Nasional. Namun, Indonesia berhasil menunjukkan bahwa dengan sistem manajemen modern, dukungan teknologi, dan komitmen politik yang kuat, percepatan pembangunan manusia bisa diwujudkan lebih cepat.

Kunjungan Presiden Lula ke Indonesia menjadi simbol pengakuan atas keberhasilan tersebut. Pemerintah Brasil tertarik mempelajari sistem pelaksanaan MBG, terutama dalam hal distribusi digital, sinergi lintas kementerian, serta keterlibatan langsung pemerintah daerah dan masyarakat.

Capaian MBG tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan kebijakan gizi paling agresif dan inklusif, tetapi juga menandai era baru pembangunan manusia Indonesia. Melalui MBG, Prabowo Subianto menegaskan visi besarnya: memastikan tidak ada anak Indonesia yang belajar dalam keadaan lapar dan bahwa setiap generasi tumbuh dengan gizi seimbang untuk membangun masa depan bangsa yang lebih kuat. (***)