BOGOR - Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil menghadiri Studium Generale di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Senin (4/5/2026). Pertemuan ini membahas transformasi dunia kerja di era digital bagi generasi muda.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli. Sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor industri menjadi sorotan utama dalam menciptakan talenta yang memiliki kesiapan kerja tinggi.

Adityawarman Adil menegaskan bahwa tantangan digitalisasi memerlukan kesiapan sumber daya manusia. Mahasiswa perlu beradaptasi dengan perubahan besar teknologi dan tidak hanya mengandalkan ijazah formal sebagai syarat memasuki dunia kerja.

"Dunia kerja saat ini sedang mengalami pergeseran paradigma. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan ijazah formal semata. Mahasiswa harus memiliki growth mindset dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini agar mampu bersaing," kata Adityawarman, Senin (4/5/2026).

Pemerintah daerah terus berupaya mendukung penciptaan lapangan kerja melalui regulasi dan kolaborasi lintas sektor. Lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi pelopor inovasi yang membuka lapangan pekerjaan baru di masyarakat.

Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli memaparkan data angkatan kerja Indonesia mencapai 154 juta jiwa dengan angka pengangguran 7,46 juta. Sarjana memiliki keunggulan kompetitif karena termasuk dalam kelompok 15 persen elit angkatan kerja.

"Perusahaan saat ini lebih mencari keterampilan (skills) daripada sekadar selembar ijazah. Kita harus mengubah pola pikir dari fixed mindset menjadi growth mindset, yaitu kesiapan untuk terus belajar hal baru setiap saat," kata Menaker Yassierli, Senin (4/5/2026).

Menaker Yassierli menambahkan bahwa sektor baru seperti industri semikonduktor serta optimalisasi teknologi bidang pertanian menjadi peluang besar. Sektor ini dinilai potensial menjadi ladang pekerjaan masa depan bagi tenaga kerja Indonesia.

Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, memaparkan data pengangguran di Kota Bogor mencapai 43.043 orang atau 7,95 persen. Angka tersebut didominasi oleh lulusan SMK yang memerlukan penanganan khusus.