Jakarta – Menjelang usia satu abad, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menggelar rapat koordinasi bersama pimpinan organisasi anggota di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Pertemuan bertema “Optimisme Perempuan Menuju 100 Tahun Kowani dan Indonesia Emas 2045” ini dihadiri puluhan perwakilan dari 118 organisasi anggota.
Selain rapat, agenda juga diisi dengan edukasi melalui preview film Suamiku, Lukaku serta diskusi isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Ketua Kowani, Dr. dr. Hj. Ulla Nuchrawaty, M.M., menegaskan rapat koordinasi menjadi langkah awal menuju Kongres Luar Biasa (KLB) yang akan membahas perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). “Bangsa ini memiliki organisasi perempuan tertua dan terbesar. Kalau kita diam, negara bisa terancam. Jalan yang lurus dan legal adalah KLB,” ujarnya.
Kowani disebut telah menghadapi konflik internal selama 12 bulan terakhir, pasca terpilihnya kepengurusan Dewan Pimpinan. Pada November 2025, 19 anggota DP Kowani menyampaikan mosi tidak percaya terhadap Ketua Umum Kowani Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., yang memicu desakan KLB.
Sri Yoeliati Sugiri dari Wanita Taman Siswa (WTS), mewakili unsur pendiri Kowani, menekankan pentingnya menjaga Kowani sebagai aset negara. “Selama 97 tahun tidak pernah ada persoalan internal sebesar ini. Dukungan penuh untuk KLB sangat diperlukan,” katanya.
Sugiri juga menegaskan sejarah pendirian Kowani oleh tiga organisasi perempuan: Aisyiyah, Wanita Katolik RI (WKRI), dan Wanita Taman Siswa (WTS).
Dukungan terhadap pelaksanaan KLB terus berdatangan. Rencananya, kongres luar biasa akan digelar pada Januari 2026.*