KOTA BOGOR, WWB.CO.ID – Bahan material yang dipergunakan untuk pembangunan Bumi Ageung Batutulis dinilai tidak sesuai dengan spek yang sudah direncanakan.
Pasalnya Masyarakat Peduli Bumi Ageung Batutulis Bogor telah menolak pembangunan tersebut, hingga muncul kesempatan antara Pemkot Bogor dalam hal ini Dinas Kebudayaan, Kontraktor dan masyarakat,” ungkap Ketua Masyarakat Peduli Bumi Ageung Batutulis Putra Sungkawa dalam Pres Konpres di Jalan Batutulis Bogor, Selasa (26/12/23).
Putra menyebut Pemerintah Kota Bogor telah membohongi masyarakat dengan memaksakan pembangunan dengan menggunakan material yang tidak tepat.
“Pembangunan ini dipaksakan, padahal dinding yang harusnya menguntungkan bata merah itu malah menggunakan hebel. Hal itu tentunya melanggar kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya antara pihak Disbudpar dan masyarakat,” terang Putra.
Selain dinding bangunan, lanjutnya, penggunaan material kusen dan atap (genteng) juga dinilai tidak sesuai. Oleh karena itu, Putra menilai pembangunan yang menghabiskan anggaran sebesar Rp. 16 Milyar ini tidak akan bertahan hingga puluhan tahun apa lagi ratusan tahun.
“Pembangunan ini kan menggunakan APBD Kota Bogor tentu kita ingin bangunan tersebut bisa dinikmati oleh anak cucu kita kedepan, kalau bahannya seperti ini mana mungkin bisa bertahan,” ungkap Putra.
Pada kesempatan yang sama, Divisi Advokasi Masyarakat Peduli Bumi Ageung, Santi Chintya Dewi meminta Aparat Penegak Hukum (APH) proaktif terhadap dugaan pelanggan dalam pembangunan Bumi Ageung Batutulis Bogor.
“Saya berharap APH bisa proaktif terhadap dugaan pelanggaran yang menjadi konflik dalam pembangunan Bumi Ageung ini,” katanya.
Oleh karena itu, Santi pun menantang Kejaksaan dan Inspektorat Kota Bogor dalam hal pengawasan yang dilakukan terhadap Pembangunan Bumi Ageung.