BOGOR - Kondisi ekonomi masyarakat di Kota Bogor saat ini tengah menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan sulitnya akses lapangan pekerjaan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

Abah Tataros menyampaikan bahwa kesulitan tersebut mulai dari naiknya harga beras hingga hambatan biaya kesehatan dan pendidikan yang kini dirasakan nyata oleh masyarakat di tingkat rumah tangga.

"Jeritan itu nyata. Bukan lagi di layar berita, tapi sudah sampai ke warung-warung, ke dapur-dapur, ke kasur tipis warga," kata Abah Tataros, Senin (05/05/2026).

Fenomena ini menurutnya memicu keresahan sosial yang luas jika tidak segera ditangani, terutama menyangkut isu kelaparan dan layanan birokrasi yang dinilai masih berbelit-belit bagi warga yang membutuhkan bantuan.

Terdapat empat poin utama yang ditekankan bagi para pemangku kebijakan di Bale Badami untuk merespons situasi ini, yaitu sensitivitas hati nurani, kecepatan birokrasi, efisiensi anggaran, dan menjaga kondusivitas wilayah.

"Jangan tuli. Pemimpin boleh tidur larut, tapi tidak boleh tidur hatinya. Dengarkan jeritan itu sebelum jadi amarah. Turun, lihat, peluk, lalu cari jalan," kata Abah Tataros, Senin (05/05/2026).

Ia juga menuntut agar birokrasi bekerja lebih cepat dalam memberikan pertolongan melalui program Bogor Beres tanpa harus menunda bantuan melalui rapat-rapat administratif yang berkepanjangan.

"Jangan lambat. Rakyat lapar tidak bisa disuruh sabar nunggu rapat bulan depan. Birokrasi harus lari, bukan jalan," kata Abah Tataros, Senin (05/05/2026).

Alokasi anggaran daerah diminta untuk diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, obat-obatan, dan sekolah, daripada digunakan untuk proyek-proyek yang tidak berdampak langsung bagi masyarakat miskin.