SIDOARJO, WWB.co.id — Suasana duka yang mendalam masih menyelimuti Pondok Pesantren Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Di tengah puing-puing dan debu yang berterbangan, harapan dan doa terus mengalir dari para petugas SAR yang tak kenal lelah, berjuang selama delapan hari penuh.
Tragedi memilukan ini terjadi pada Senin sore, 29 September 2025, ketika bangunan empat lantai di kompleks pesantren tiba-tiba ambruk. Saat itu, para santri sedang melaksanakan salat Ashar, dan seketika lantai demi lantai runtuh, menimbun mereka di bawah tumpukan beton yang berat.
Bagi tim Basarnas dan ratusan relawan yang terjun langsung ke lokasi, misi penyelamatan ini bukan sekadar tugas, melainkan sebuah perjuangan kemanusiaan yang penuh makna.
“Kami bekerja di ruang sempit dengan reruntuhan menggantung di atas kepala. Salah langkah bisa berakibat fatal,” kata Emi Freezer, Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Basarnas.
Selama operasi berlangsung, sebanyak 375 personel gabungan dikerahkan. Mereka bekerja siang malam tanpa henti, bergantian menyusuri celah reruntuhan dengan alat sederhana seperti bor, sensor, hingga pemotong portabel. Penggunaan alat berat dihindari karena risiko pergeseran beton yang dapat mengancam nyawa korban maupun tim penyelamat.
Hujan deras sempat menjadi ancaman, namun cuaca yang bersahabat memungkinkan proses pencarian terus berjalan. Di bawah sinar lampu darurat, tim berjuang membuat lubang sempit berdiameter sekitar 60 sentimeter. Dari celah tersebut, satu per satu korban berhasil dijangkau — sebagian masih bernapas, sementara yang lain telah berpulang.
“Setiap menemukan korban, kami berhenti sejenak untuk berdoa. Rasanya campur aduk, antara sedih dan lega,” ujar salah satu relawan yang enggan disebutkan namanya.
Bukan hanya fisik yang diuji, tetapi juga mental. Tekanan dari keluarga korban yang menunggu kabar di luar lokasi menambah beban emosional. Namun, semua anggota tim sepakat: yang terpenting adalah memberikan kepastian — hidup atau meninggal — agar keluarga bisa tenang.
Hingga operasi berakhir, seluruh jenazah santri yang tertimbun berhasil ditemukan dan diserahkan kepada pihak keluarga. Tangis haru pecah di setiap proses pemakaman, menjadi penutup dari delapan hari penuh perjuangan dan doa yang tak pernah padam.