JAKARTA, wwb.co.id - Pondok pesantren, sebagai lembaga pendidikan tradisional, memiliki keunikan tersendiri dalam cara mentransfer ilmu. Menteri Agama, Nasarrudin Umar, menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran di pondok pesantren tidak dapat dinilai hanya dengan perspektif modern. Menurutnya, pondok pesantren memiliki sumber pengetahuan yang kaya, yang salah satunya adalah penekanan pada adab dan tabarruk (pemberkahan).

Dalam acara Pesantren Award yang berlangsung pada Senin malam (20/10) di kantor Kemenag, Thamrin, Jakarta Pusat, Nasarrudin menjelaskan bahwa tradisi pembelajaran di pondok pesantren tidak hanya bergantung pada deduksi akal. Ia menyebutkan bahwa ada lima model transfer pengetahuan yang digunakan, termasuk intuisi, wahyu, dan mimpi. Bagi pondok pesantren, pengetahuan adalah pengetahuan Allah.

Lebih jauh, Menag menekankan bahwa perbedaan mendasar dalam metodologi pondok pesantren terletak pada adab dan penghormatan. Ia memberikan contoh sikap tawadhu (rendah hati) Nabi Musa yang selalu memenuhi syarat yang ditetapkan oleh gurunya.

"Ilmu tidak akan pernah masuk ke dalam hati yang kotor dan tidak memiliki adab," kata Nasarrudin, Senin (20/10). Pernyataan ini menggambarkan betapa pentingnya adab dalam proses pembelajaran di pondok pesantren, yang sering kali tidak dipahami oleh banyak orang.

Menag juga menyoroti peran sentral pondok pesantren dalam membentuk kemerdekaan dan keadaban publik di Indonesia. Ia berpendapat bahwa kesantunan dan keramahan masyarakat Indonesia banyak dipengaruhi oleh pendidikan yang diterima di pondok pesantren.

"Kita harus bangga bahwa pondok pesantren sebenarnya yang menanamkan keadaban publik di Indonesia," pungkas Menag. (Hirawan)