KAB.BOGOR, WWB.CO.ID – Aplikasi penyedia data dan kualitas udara, Nafas Indonesia, baru saja merilis laporan studi gabungan bersama layanan telemedisin Indonesia, Halodoc, pada Selasa (26/9/2023).

Hasilnya, Nafas dan Halodoc menemukan bahwa Kabupaten Bogor adalah wilayah dengan peningkatan kasus penyakit pernapasan tertinggi di Jabodetabek sepanjang Juni 2023.

Secara rinci, Kecamatan Sukaraja mengalami peningkatan kasus sebanyak 41 persen, diikuti oleh Kecamatan Babakan Madang sebanyak 39,1 persen, dan Kecamatan Cibinong sebesar 38,1 persen.

“Ternyata ada daerah di mana kasus penyakit pernapasan meningkat hingga 41 persen setiap kali PM2.5-nya naik 10 [mikrogram per meter kubik]. Ini terjadi di daerah Bogor,” ujar Co-Founder Nafas Indonesia, Piotr Jakubowski, dalam diskusi media daring, Selasa (26/9/2023) seperti yang dirilis dari cnbc indonesia

Lebih lanjut, Piotr mengatakan bahwa sepanjang Agustus 2023, wilayah Bogor menduduki posisi kedua setelah Tangerang Selatan sebagai daerah dengan kualitas udara terburuk. Menurutnya, pembakaran sampah adalah salah satu pemicu utama tingginya tingkat polusi udara di Bogor.

“Ada kesalahpahaman bahwa daerah yang ada banyak pohon [seperti Bogor] itu memang kualitas udaranya bagus. Kenapa salah paham? Kalau kita fokus pada polusi partikel PM2.5, pohon tidak bisa menyaring polusi PM2.5,” jelas Piotr.

“Berdasarkan data dari Nafas, ternyata peningkatan jumlah jam [udara] tidak sehat di Bogor dari Juli ke Agustus meningkat hampir 50 persen. Di daerah Jabodetabek itu memang tertinggi. Kalau dari ranking selama Agustus, Bogor lebih tinggi dari DKI Jakarta,” imbuhnya

Follow dinamikanews.wwb.co.id
Follow on Google